//
you're reading...
GetaRasa

Menata Ulang Pemahaman Tentang Kegiatan Inisiasi

Kegiatan inisiasi lagi. Lagi-lagi inisiasi.Tahun lalu sudah kini kembali lagi. Entah berapa orang mahasiswa baru yang keberatan, entah siapa pula yang senang. Sebenarnya apa substansi inisiasi ?

Tahun 1992 angkatan kami giliran diinisiasi. Itu sudah cukup lama, hampir dua puluh tahun lalu. Angkatan sebelum-sebelum kami juga sudah mengalaminya.  Jika tradisi inisiasi sudah dilakukan sejak awal berdirinya jurusan antropologi di USU, itu artinya sudah dilakukan secara berulang selama 30-an tahun. Lalu apa manfaatnya?

Dua pertanyaan itu, dalam hematku penting untuk dijawab oleh siapapun yang mendukung kegiatan tersebut masih penting untuk diteruskan. Sehingga dapat dilakukan perbaikan terhadap mekanisme dan tatacaranya sesuai dengan sasaran dan target yang diharapkan. Jika dua pertanyaan sederhana itu tidak bisa dijawab atau tidak mau menjawabnya, sudah selayaknya kegiatan inisiasi diabaikan.

                                                                        ****

Saya akan memulai diskusi ini dengan bercerita tentang pengalaman mengikuti kegiatan inisiasi. Pengalaman pertama tentunya ketika diterima menjadi mahasiswa Antropologi FISIP USU pada tahun 1992. Mahasiswa Antropologi Angkatan 92 jumlahnya 48 orang. Meningkat tajam dari tahun sebelumnya yang hanya belasan orang. Latar belakang pendidikan mahasiswa baru ini ada yang IPS dan Bahasa (A3 dan A4) banyak pula dari IPA (A1 dan A2). Pilihan jurusan lebih beragam lagi, dan hanya sebahagian kecil mahasiswa yang menempatkan Antropologi sebagai pilihan pertama. Ada mahasiswa yang berasal dari Kota Medan, Jakarta, Padang dan Lampung tetapi jumlah terbesar dari kabupaten/kota yang berada di Sumatera Utara. Secara etnis dan agama juga beragam diantaranya terdapat 3 orang Tionghoa, satu diantaranya beragama Islam.

Kami diminta untuk ikut kegiatan inisiasi dengan biaya yang sudah ditetapkan. Inisiasi ini merupakan kegiatan ketiga dengan jarak yang berdekatan dan wajib bayar kontan. Diawali Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) lalu yang beragama Islam diajak ikut Masa Orientasi Pengenalan (MOP) oleh HMI dan lalu jurusan buat lagi kegiatan Inisiasi.

Pendekatannya pun tidak sama. Jika di saat OSPEK dipaksa ikut dengan ancaman, MOP dengan bujukan, untuk kegiatan Inisiasi kombinasi antara bujukan dan ancaman.  Bentuk bujukannya antara lain dengan ucapan bahwa dengan menjadi kerabat, kami sebagai mahasiswa baru akan bisa meminjam buku kepada seniornya dan berkonsultasi soal perkualiahan termasuk pengenalan karakter dosen. Para senior menyampaikan bahwa dengan memahami karakter dosen seperti dalam mengajar, tugas kuliah dan pembuatan soal ujian akan sangat membantu untuk memperoleh nilai yang bagus. Janji manis layaknya politikus yang selalu ingkar janji. Senior yang suka berjanji itu ternyata tidak pernah beli buku mana mungkin punya buku. Saya pun tidak pernah dengar teman seangkatan yang berhasil meminjam buku ke senior. Ketika ada tugas mata kuliah yang membutuhkan referensi dari buku yang tidak ada diperpustakaan, sudah dipastikan senioran juga tidak memilikinya. Informasi tentang karakter dosen juga tidak begitu signifikan terhadap pencapaian nilai. Namun, jurus itu tetap saja digunakan untuk tahun-tahun berikutnya, termasuk oleh beberapa kawan seangkatan ketika menjadi panitia. Sementara ucapan yang bernada mengancam adalah tidak akan memiliki teman di kampus karena bukan kerabat. Dosen juga dihadirkan oleh panitia untuk mendesak agar seluruh mahasiswa baru ikut Inisiasi.

Seingatku kami seluruhnya ikut. Tak jelas bujukan atau ancaman yang paling efektif. Namun, pengaruh ajakan kawan seangkatan untuk bersama-sama sangat berpengaruh untuk keikutsertaan. Kebersamaan mampu mengurangi rasa khawatir akan kegiatannya yang dalam pikiran kami sama saja dengan OSPEK. Meskipun panitia dan senioran lainnya menjelaskan tidak akan sama, tetapi kami tidak begitu mempercayainya.

Lokasinya di suatu tanah lapang di sekitar areal perladangan penduduk. Secara administratif tempat Inisiasi berada di Desa Namu Sira-Sira, daerah dataran tinggi di Kabupaten Langkat.  Tidak ada pemukiman penduduk di sekitar perkemahan kami yang berada di lembah dua bukit di dekat sungai kecil. Jarak terdekat  dari pemukiman penduduk sekitar 500 meter. Umumnya penduduk desa ini adalah etnis Karo. Menuju tempat ini, panitia menyewa tiga bus sinabung. Bus ini sehari-harinya melayani rute Medan – Kabanjahe, Karo.

Kami tiba di lokasi menjelang senja. Di tempat itu telah terpasang tiga tenda beralaskan tikar plastik yang akan menjadi penginapan kami selama dua hari tiga malam. Satu tenda untuk calon kerabat pria, satu untuk wanita dan satu sisanya yang berukuran lebih besar untuk panitia dan senioren. Kami pun menumpuk tas di tenda yang disediakan, mandi ke sungai dan bersiap-siap untuk makan malam. Selanjutnya melakukan aktivitas yang diperintahkan senioren. Di suruh baris, kami berbaris.  Dibentak-bentak kami diam saja, diperintahkan berguling-guling di lapangan becek, diikuti tanpa tanya karena para senioren itu pasti tak tahu tujuannya. Disuruh tidur kami tidur, bersempit-sempit dan berhimpitan. Air yang menggenangi kemah telah menyentakkan kami dari tidur. Awalnya kami kira bahagian dari keusilan senioren, ternyata lokasi kemah banjir akibat hujan deras. Penyebab sebenarnya adalah kebodohan panitia memilih tempat di lembah dua bukit yang sudah pasti tergenang ketika datang hujan deras. Seluruh pakaian ku di tas jadi basah kuyup.

Meriahnya di malam puncak. Di tengah dinginnya malam, kami dibariskan dengan mata tertutup, di suruh melompat, merunduk sesuai keinginan pengiringnya sebagai tambahan dalam ritual Inisiasi. Diiring menuju pos-pos ‘pemberkatan’ yang dijaga senioran dengan suara sok tua dan sok seram dengan kata-kata mantra yang harus diikuti dan coretan di wajah dan badan. Diantaranya diberi minuman yang super pahit, disiram dengan air yang super bau, diteplok telor mentah yang syukurnya tidak busuk dan di pos terakhir diberi air manis. Aku sempat marah besar dan membuka skrab penutup mata karena senioren memecahkan telor dengan sekuat tenaganya di kening ku hingga aku terjengkang.

Selesai mengikuti prosesi satu orang teman kemasukan roh, satu lainnya, Meysalina berteriak  “hantuu…” dan kemudian pingsan ketika penutup mata dibuka dan melihat wajah di sekelilingnya penuh coretan. Kami dikiranya hantu. Halimin, salah seorang teman Tionghoa kami, protes keras yang menurutnya dia telah mendapat perlakuan diskriminasi dengan coretan cat yang lebih banyak dan bekas cakaran di leher.

Rangkaian ritual inisiasi sudah tuntas dan kami pun dikukuhkan sebagai kerabat. Kami senang, bukan karena sudah ditetapkan jadi kerabat tetapi telah melewati rangkaian acara tersulitnya. Para senioren pun membuat suasana yang lebih akrab. Tampilan wajahnya telah berubah, yang sebelumnya sok seram menjadi banyak senyum dan ramah. Bernyanyi bersama lagu-lagu riang dengan canda-canda yang menyegarkan,  keakraban pun terbangun. Rasa dendam dan sakit hati ku terhapus sudah. Entahlah Halimin, kawan Tionghoa ku yang akhirnya memilih untuk tidak menamatkan kuliahnya di Antropologi.

                                                                  ****

Tahun-tahun berikutnya Inisiasi dilakukan dengan tata cara yang hampir sama. Jika pun ada perubahan adalah kepanitiaan dan lokasinya. Umumnya miskin kreativitas dan inovasi dalam mendesain kegiatan yang berusaha menggali potensi dan kreativitas mahasiswa.

Tak mau merubah diri akhirnya akan dipaksa oleh perubahan. Era reformasi, salah satunya ditandai dengan kebencian cara-cara meliteristik yang menonjolkan kekerasan. Sikap itu terinternalisasi hingga ke penyelenggara pendidikan. Pihak rektorat misalnya melarang kegiatan OSPEK di lingkungan USU. Di Fakultas, Pudek III bertanggung jawab untuk memastikan tidak terjadi praktek kekerasan senioren terhadap mahasiswa baru. Jurusan pun mengontrol kegiatan Inisiasi bebas dari berbagai tindakan yang bersifat tidak mendidik. Ternyata mahasiswa yang sulit berubah untuk menjunjung nilai dan prinsip yang diperjuangkan para mahasiswa sebelumnya ketika mengakhiri era orde baru.

Sementara kontrol pihak jurusan terhadap kegiatan Inisiasi semakin dominan. Staf pengajar yang ditunjuk sebagai dosen pendamping akan dengan mudah menginterupsi acara bila dianggapnya sudah menyimpang. Panitia yang tidak siap dan miskin kreatifitas, adanya interupsi dari dosen pendamping akan membuat kegiatan Inisiasi menjadi kacau balau dan tanpa bentuk. Contohnya adalah Inisiasi tahun 2010 di Parapat. Sebaliknya, terbangunnya kesepahaman dan kerjasama antara panitia dan dosen pendamping membuat acara berlangsung lancar seperti Inisiasi tahun 2009 di Desa Sayum Sabah. Menurutku panitia mampu memadukan arahan dosen dengan kreatifitas mereka. Misalnya, di malam puncak mahasiswa baru menampilkan kreasinya.

Kuatnya kontrol jurusan, saat ini disebut departemen, harapannya tidak sampai mematikan kreatifitas mahasiswa (panitia) yang kemudian hanya bisa mem’bebek’ terhadap kemauan departemen/dosen pendamping. Jika kondisi seperti itu terjadi, merupakan kemunduran dalam sejarah Inisiasi dan Antropologi FISIP USU. Menurutku rancang idealnya ke depan adalah departemen memberikan rambu-rambu dan panitia memaksimalkan kreatifitas dan inovasinya untuk merancang kegiatan Inisiasi yang memadukan tradisi Inisiasi dan upaya memaksimalkan potensi dan kreatifitas mahasiswa baru.

Pencapaian kondisi ideal tersebut membutuhkan kerja keras siapapun yang duduk di kepanitian (SC dan OC) untuk memperdalam pengetahuan tentang substansi, dan pengalaman baik dari kegiatan inisiasi sebelum-sebelumnya. Mulai dari pengorganisasian persiapan hingga pelaporan pertanggung-jawaban. Diskusilah dengan para dosen, alumni dan senioren untuk memperoleh bahan masukan dalam merancang kegiatan Inisiasi yang bukan imitasi kekerasan.

Apa itu Inisiasi?

Beberapa hari yang lalu, saya menonton Discovery Channel yang menyiarkan upacara Inisiasi pada Suku Maori di Australia dan Suku Bena-Bena di Papua Nugini. Upacara yang dilakukan sebagai ujian bagi anggota suku untuk peralihan dari kelompok remaja menjadi dewasa. Bagi yang berhasil rangkaian upacara diterima sebagai anggota kelompok umur yang baru dengan hak dan kewajiban yang baru dengan pengaturan yang jelas secara adat.  Inisiasi menjadi salah satu upacara di masa-masa yang dianggap kritis di sepanjang lingkaran hidup (crises of the long life cycle) yang terdapat di berbagai suku bangsa di dunia.

Inisiasi di Suku Maori disebut pula upacara Tocandira, dimana seseorang yang diinisiasi digigit kumpulan semut api yang paling beracun yakni semut Tocandira selama 8 kali selama delapan hari. Untuk menghadapi upacara, orang tersebut harus melakukan persiapan sebulan penuh dengan meminum dan dilumuri berbagai ramuan untuk mengurangi dampak racun yang sangat mematikan. Di saat upacara, orang yang diinisiasi mengalami rasa sakit yang luar biasa dengan kulit melepuh akibat gigitan semut api tersebut.  Sementara, Inisiasi pada Suku Bena-Bena, orang yang diinisiasi menelan atau tepatnya memasukkan  rotan ke rongga mulut melewati kerongkongan hingga ke usus.

Saya kira, inisiasi sebagai ritus penerimaan anggota baru juga terdapat di berbagai suku bangsa di Indonesia. Praktek tersebut yang kemudian dikreasi oleh generasi pertama Antropologi USU dalam dalam suatu kegiatan Inisiasi bagi mahasiswa baru untuk diterima sebagai kerabat antropologi. Praktek yang kemudian diikuti hampir keseluruhan jurusan di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Hanya saja, pelaksanaan yang berulang setiap tahun tidak membuat tahapan dan tata cara upacara Inisiasi menuju penyempurnaan, malah terjebak ke dalam rutinitas seremonial belaka. Kerelaan yang merupakan salah satu prinsip dasar dari Inisiasi kalah dominan dengan keterpaksaan. Perbedaan kerabat dan bukan kerabat menjadi kabur, yang kemudian mengaburkan kebermaknaan dari kerabat dan Inisiasi.

Reinterpretasi Inisiasi, perlukah?

Jawabanku sangat perlu. Namun pertanyaan ini ku sampaikan ke pengelola departemen, staf pengajar, mahasiswa, khususnya Panitia Inisiasi Tahun 2011. Mungkin tidak semua sependapat denganku. Begitupun, sebagai wujud kontribusiku untuk kemajuan antropologi berikut pokok-pokok pikiran dan argumentasi ku.

Pertama : Telah terjadi perubahan arus utama pemikiran (mainstream) dari yang meliteristik dan instruksional ke arah penghormatan nilai-nilai kemanusian diantaranya anti kekerasan dan penyiksaan. Dalam konteks ini, kegiatan Inisiasi tidak mungkin lagi menonjolkan budaya kekerasan dan penyiksaan tetapi harus diarahkan ke upaya maksimalisasi potensi dan kreativitas calon kerabat.

Kedua : Mahasiswa bukan suku bangsa. Sehingga tidak bisa mereplikasi apalagi sekedar meng-imitasi praktek-praktek Inisiasi yang terdapat di berbagai suku bangsa yang diantaranya telah saya gambarkan di bahagian tulisan ini. Untuk itu dibutuhkan formulasi yang tepat untuk menyesuaikan dengan bentuk-bentuk krisis yang dialami oleh mahasiswa baru antropologi. Menurut hematku, krisis utama mahasiswa baru adalah kegamangan dalam penentuan pilihan menjadi mahasiswa antropologi. Hal ini terkait dengan fakta bahwa Antropologi bukan pilihan pertama/utama dari sebahagian besar mahasiswa baru sehingga berdampak terhadap tingkat kebanggaan dan motivasi. Justru diantaranya masih ada yang berpikiran apakah melanjutkan kuliah atau berhenti, dan akan mengikuti ujian penerimaan di tahun berikutnya. Sehingga fokus Inisiasi selain menjalankan tradisi, rangkaian upacara haruslah diarahkan untuk membentuk dan menguatkan keyakinan bahwa Antropologi adalah pilihan yang tepat.

Di akhir tulisan ini, pesan saya ke panitia Inisiasi adalah gunakan potensi dan kreativitasmu untuk memaksimalisasi potensi, kreativitas dan inovasi dari calon kerabat.

Kota Bengkulu, 11 September 2011

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

4 respons untuk ‘Menata Ulang Pemahaman Tentang Kegiatan Inisiasi

  1. Saya setuju dengan apa yang abang katakan. Kita membutuhkan sebuah perubahan yang didalamnya disertai dengan edukasi yang mencerdaskan bukan untuk mengkerdilkan. Di setiap lini, jika perubahan sudah terjadi, tentunya pasti akan tercipta sebuah pro dan kontra yang out putnya akan menimbulkan sebuah kekacauan (kekacauannya relatif). Perubahan yang dilakukan tentunya memang perlu memberlakukan sebauh rambu-rambu yang harus disusun secara bersama oleh pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Kita berharap tentunya hal itu dapat terwujuda dalam kasanah yang aman dan enak.

    Posted by Radint | September 21, 2011, 5:55 pm
  2. Saya setuju dengan apa yang abang katakan. Kita membutuhkan sebuah perubahan yang didalamnya disertai dengan edukasi yang mencerdaskan bukan untuk mengkerdilkan. Di setiap lini, jika perubahan sudah terjadi, tentunya pasti akan tercipta sebuah pro dan kontra yang out putnya akan menimbulkan sebuah kekacauan (kekacauannya relatif). Perubahan yang dilakukan tentunya memang perlu memberlakukan sebauh rambu-rambu yang harus disusun secara bersama oleh pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Kita berharap tentunya hal itu dapat terwujud dalam kasanah yang aman dan enak.

    Posted by Radint | September 21, 2011, 5:55 pm
  3. Terima kasih sebelumnya atas pencerahannya, lewat membaca tulisan ini sedikit banyaknya telah mempengaruhi Pola pikir saya tentang inisiasi. Dan kebetulan sekali pada tahun ini saya dan kawan-kawan seangkatan yang menjadi panitia acara sakral tersebut, mungkin jika terdapat saran yang membangun kami kedepannya yang berjalan lurus dengan tulisan diatas saya mengucapkan terima kasih banyak. Saya sendiri kebetulan mahasiswa s1 ilmu perpustakaan USU. Terima kasih sebelumnya.

    Posted by yogi | Maret 8, 2014, 8:57 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: