//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (5)

Matahari sedang terik-teriknya. Pantulannya di  seng menyilaukan mata. Begitupan sengatan panasnya tak mampu memaksa peluh membasahi wajah yang tanpa pelindung. Hembusan angin laut mampu menyejukkannya, tetapi tak menjamin kulit kami tidak lebih gelap dari sebelumnya.

Kami keluar dari warung setelah menyantap indomie rebus sebagai menu makan siang. Ditemani Bang Saad, kami menuju rumah Pak Usman. Untung bagi kami, beliau ada di rumah. Menyambut dengan ramah dan mempersilahkan kami duduk. Bang Saad permisi untuk melanjutkan perjalanannya yang tertunda ketika kami memanggilnya ke warung pagi tadi. Beliau adalah keberuntungan kami.

Kami memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan. Beliau pun dengan senang hati menjawab pertanyaan kami. Beliau berkisah tentang sejarah desa, kondisi hutan mangrove, kegiatan penanaman bakau dan lainnya. Kami bertanya bergantian sambil mencatat informasi-informasi yang beliau sampaikan. Awalnya begitu lancar karena sudah tertulis di panduan wawancara.  Tak jarang tersendat juga ketika mengajukan pertanyaan lanjutan untuk lebih mendalaminya dan hubungan antara satu informasi dengan informasi lainnya.  Kami sudah mendapat pelajaran tentang kajian antropologi yang holistik namun secara praktikal sebenarnya kami tidak terlalu memahaminya.

Pak Usman, informan kami menyampaikan yang beliau ketahui.  Beberapa informasi yang baginya meragukan, beliau minta kami untuk menanyakannya ke kepala desa maupun Pawang Zakaria.  Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Telah hampir tiga jam kami melakukan wawancara. Catatan lapangan telah memenuhi berlembar-lembar buku catatan. Azan Shalat Ashar telah menginterupsi kami untuk istirahat. Pak Usman menjanjikan mengajak kami ke hutan desa untuk melihat lokasi kegiatan penanaman bakau LPPM USU dan yang ia tanam sendiri. Pak Usman bersiap-siap untuk shalat dan saya mengikutinya ke mesjid yang persis di depan rumahnya. Temanku, Sahat tidak beranjak karena jadwal ibadahnya setiap hari minggu.

Urusan ketuhanan telah selesai. Kembali ke soal kehutanan. Kami berjalan mantap menuju pantai hutan desa. Pak Usman di depan kami di belakangnya. Perawakan tinggi besar dengan parang panjang ditenteng di tangan, Pak Usman seperti panglima perang dengan dua orang prajurit bersenjata ballpoint.  Setiap bertemu dengan penduduk, beliau menjelaskan hendak ke pantai menemani kami yang selalu disebut dengan bangga dari USU. “Ke pantai kawani Syahrum dan Saad dari USU” ucapnya.

Nama USU tampaknya tidak asing lagi di desa ini, walaupun tidak keseluruhannya mengerti ke panjangannya. USU melalui Lembaga Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) memiliki beberapa kegiatan didesa ini diantaranya penanaman bakau. Suatu waktu ada yang bertanya tentang kepanjangannya setelah beberapa hari memendam rasa ingin tahu tetapi mungkin malu menanyakannya. Orang itu bertanya kepanjangannya. Aku mencandainya dengan memplesetkannya sebagai Universitas Salah Urus (USU) dan cepat-cepat mengkoreksinya. Memori ku ketika itu masih tertaut dengan berbagai kritik yang marak di kalangan dosen terhadap ketidakadilan dalam pengelolaan kampus. Diantaranya disampaikan dalam bentuk foklore (plesetan dan joke) seperti menyebut singkatan USU sebagai Universitas Salah Urus. Juga berkembang joke tentang rumah dinas dosen. Joke ini berkembang terkait dengan pengelolaan perumahan dosen yang ditempati seumur hidup oleh dosen senior dan dilanjutkan oleh anggota keluarganya sehingga menutup kemungkinan dosen muda untuk bisa menempati yang sebenarnya paling membutuhkannya.  Justru beberapa tahun berikutnya berubah statusnya menjadi milik pribadi berdasarkan keputusan rektor yang didukung oleh dewan guru besar. Kisahnya : Diceritakan bahwa ada dua orang agen asing yang sedang memantau Sumatera Utara melalui satelit kemudian berdebat karena seorang diantaranya menyebut bahwa yang sedang mereka lihat di layar monitor adalah USU, tetapi satu lainnya tidak setuju dan menyebutnya tempat itu adalah  Bandar Baru. Alasannya  jika itu USU seharusnya yang tampak adalah proses belajar mengajar bukan kegiatan reproduksi.

Pantai hutan desa sudah dihadapan kami. Pantai dengan bibirnya dihiasi pasir putih yang dihari libur banyak didatangi oleh muda mudi. Pak Usman meneruskan penjelasannya. Sambil menyimaknya, pikiranku masih bergelayut ke cara Pak Usman dan warga lainnya menyebut nama kami yang khas Batak dengan lapaz berbeda. Nama kami telah mengalami melayunisasi menjadi  Syahrum dan teman ku, Sahat menjadi Saad. Padahal ketika memperkenalkan diri, kami merasa sudah menyebutnya dengan tepat. Sempat muncul keinginan untuk mengkoreksinya setiap warga mengucapkannya tidak tepat. Namun, urung melakukannya karena merasa warga lebih nyaman dengan nama baru itu daripada nama kami sejatinya. Kami pun merasa ada untungnya untuk membangun kedekatan emosional dengan warga. Hari-hari berikutnya, aku sudah menyebut diri Syahrum ketika memperkenalkan diri.

Menyusuri pantai di kala senja sungguh menentramkan. Pantulan cahaya matahari di riak air laut bagaikan siluet indah yang menari riang. Dihiasai ayunan kepak sayap  burung camar yang melayang-layang menyambut ombak yang menyapu pantai. Membasahi kaki kami yang berjalan sambil menoleh ke kiri memandang lautan dan ke kanan rimbunnya pepohonan di hutan desa. Dibumbui penjelasan dari Pak Man yang menurutnya penting untuk kami ketahui dan menjawab apapun yang kami pertanyakan. Itu pohon apa? Pohon ini biasanya digunakan untuk apa? LPPM USU menanam jenis pohon yang seperti apa? Bibitnya dari mana? Seterusnya dan seterusnya? Senangnya mengamati,  mendengar dan mencatat…(bersambung).

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

2 respons untuk ‘Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (5)

  1. bg, ne desy. mw tanya. trkadg ketika kta menulis, diteengah perjalanan itu spert khbsn kta. ign mncri kta yg tpt, rgn dan mdh dmgrt tu bgug gt, shgga penulisan jd lama bhkan tertunda. Trus membuat suatu cerita yg menarik dengan cerita yg pas-pasan tu gmna? solusinya ya bg!

    Posted by desy | September 13, 2011, 2:44 pm
    • Hai Desy…sebenarnya abg juga mengalaminya dan mngkn juga dialami oleh penulis yg berpengalaman……dari referensi yg abg baca : menulis akan lebih mudah jika kita membayangkan sedang bercerita dengan seseorang yg sangat tertarik dengan cerita kita….jadi tulis saja terus apapun dgn kata2 seperti kita berbicara…..setelah selesai bicara/ceritanya baru edit tulisannya.

      Membuat cerita yg menarik bisa karena memang temanya sudah menarik….tema yg menarik itu bisa karena kebermanfaatan bagi yang lain, bisa karena kelucuan, kekonyolan dan lain-lain yg banyak sekali dalam keseharian kita. Namun bisa juga, jadi menarik karena dikemas secara menarik dengan gaya penulisan dan permainan kata-kata. Banyak gaya penulisan, diantaranya gaya bertutur seperti penulisan etnografi dan sastra. Keduanya bisa dipelajari……tetapi yang terpenting adalah tulis, tulis dan tulislah. Banyak penulis besar bilang bahwa teori menulis adalah menulis sekarang juga dan teruslah menulis……

      Posted by saruhumrambe | September 22, 2011, 10:45 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: