//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (4)

Hari kedua, jadwal kami melakukan wawancara mendalam. Informannya sudah kami identifikasi sebelumnya. Kepala desa sudah menginformasikan orangnya dan lokasi rumahnya. Dari keterangannya, tampaknya lebih mudah menemukan rumah Pak Usman. “Di belakang kantor kepala desa dan di samping mesjid”, jelas Pak Kades.

Kami mengayunkah langkah menuju sasaran. Tak sulit menemukan rumahnya. Pintu rumah tertutup, jendela terbuka. Saya ketok pintu dan mengucapkan salam tidak ada jawaban. Saya coba melihat dari jendela, tidak ada tanda-tanda ada penghuninya. Target tidak di tempat,  panduan wawancara yang sudah digenggaman kembali dimasukkan ke tas. Semangat pagi untuk wawancara tertunda disalurkan.

Kami tidak langsung beranjak pergi. Kami seharusnya menuju informan lainnya, Pawang Zakaria tetapi kami masih bingung arah ke rumahnya. Dalam kebingungan, seorang Bapak melintas dan langsung menyapa,”Tidak ada orangnya ya, Pak Man di jam seperti ini belum pulang dari laut dan mak cik itu mungkin lagi di pelantaran”, ucapnya. Sungguh kami belum paham waktu kerja nelayan, sehingga tidak bisa menyesuaikan jadwal kunjungan.  Kami pun memintanya untuk menunjukkan arah ke rumah Pawang Zakaria. Bersamanya kami menuju ke arah rumah tokoh yang paling dihormati di desa ini.

Rumah Pawang Zakaria berada di Dusun II.  Letak dusun ini sejajar dengan Dusun III. Jika ruang depannya adalah Dusun III maka Dusun II adalah beranda belakangnya. Lingkungannya kumuh dan becek. Air laut yang menggenangi pemukiman setiap pasang, halaman becek dan sampah tidak pernah dibersihkan sendiri. Penduduk memberikan tanggung jawab itu ke air pasang yang tidak selalu sempurna dalam melaksanakan tugasnya. Sebenarnya itu bukan tugas air pasang, tetapi dalam alam pikiran warga, percuma membersihkannya jika kemudian air laut akan memindahkan sebahagian sampah tetangga ke halamannya. Hal yang kurang disadari warga adalah bahagian terbesar dari sampah akan tersangkut di akar pohon bakau dan mencemari lautan.

Kami tiba di simpang gang ke rumah Pawang Zakaria. Si Bapak menunjukkan gang, dan menginformasikan bahwa di ujung gang itu adalah rumah calon informan kami. Gang itu sempit, terbuat dari papan. Panjangnya sekitar 50 meter. Luasnya selebar dua lembar papan yang disusun berjajar di antara dua rumah. Jika berpapasan maka keduanya harus memiringkan badan.

Kami langkahkan kaki, dengan irama gerak satu dua. Menyusuri gang dengan penuh harap beliau ada di rumah. Ternyata, sedang pergi ke Tanjung Pura. Untuk suatu urusan keluarga. Tak ketemu, apalagi mau di kata.

Di rumahnya yang sederhana, ada seorang perempuan dan dua anak balita. Dari perempuan itulah kami tahu bahwa Pawang Zakaria sedang pergi ke Tanjung Pura dan akan kembali sore ini. Perempuan yang awalnya saya kira adalah menantunya, ternyata adalah isterinya. Perempuan yang dinikahinya setelah isterinya yang pertama meninggal dunia. Darinya, beliau memperoleh dua anak yang masih balita.

Rumahnya yang sederhana di dalam gang sempit tak kami bayangkan sebelumnya. Sebagai tokoh yang paling dihormati, mantan kepala desa, pawang laut dan tauke awalnya kami kira Ia akan tinggal di jalan utama dengan rumah yang lebih mewah dari rumah warga kebanyakan. Kami belum bertemu tetapi saya bayangkan bahwa perilaku Pawang Zakaria ini ketika menjabat tidaklah seperti perilaku umumnya pejabat, dari desa hingga pusat yang menggunakan jabatan dan kekuasaannya untuk memperkaya diri. “Beliau pastilah menyukai kesederhanaan”, ucapku dalam hati.

Kami beranjak dari depan rumah Pawang Zakaria. Kembali menyusuri gang sempit menuju ke arah kantor kepala desa. Tetapi tidak sungguh masuk ke dalam kantor kepala desa. Tidak ada satupun kegiatan administrasi desa dilaksanakan di kantor ini.  Bangunan ini dibiarkan kosong dan pintunya tidak terkunci sehingga menjadi kandang kambing tidak resmi. Semua kegiatan administrasi desa dilakukan di rumah kepala desa dan semuanya dilakukan sendiri oleh kepala desa. Kami menuju ke arah kantor kepala desa karena di tempat itulah pusat desa, berjalan ke arahnya sambil berpikir apa yang seharusnya dilakukan setelah dua-duanya calon informan tidak ketemu. Sementara kami tidak punya rencana lainnya. Kami memang tidak siap dengan Plan B.

Kami tiba di depan kantor kepala desa. Dari situ kami memutuskan ke warung kopi terdekat. Minum teh sambil mendiskusikan tindakan lanjutannya. Apakah kami memulai saja wawancara dengan kuesioner, yang dalam rencana kerja kami baru akan dimulai keesokan harinya. “Kita ngapain lagi”, tanya Sahat. “Duduk saja kita disini, minum teh sambil mencari inspirasi” jawab ku sekenanya. “Inspirasi ma ho. Sampai kapan”, tanyanya lagi. “Ya, sampai kita selesai minum teh”, jawabku lagi. “Sudahlah, kita mulai saja wawancara dengan kuesionernya”, sarannya. Sahat, berkeinginan agar penelitiannya bisa diselesaikan secepat mungkin. “Jika kita bisa menyelesaikannya tiga hari, mengapa kita harus seminggu di desa ini”, ucapnya suatu waktu. Saya mulai melihat gelagat bahwa teman ku ini, tidak betah berlama-lama di desa.

Ketika kami sedang berdiskusi, Bang Saad melintas di depan warung, sepertinya menuju pelantaran. Aku pun memanggilnya. “Bang, mari minum dulu”. Bang Saad bergabung dan memesan kopi. Kehadiran Bang Saad dan obrolan kami telah menarik perhatian beberapa orang yang ada di warung. Mereka bergabung dan bertanya dengan sopan tentang kami. Bang Saad menjelaskan seperti kami pernah menjelaskannya padanya. Mereka begitu antusias berbagi informasi tentang kondisi hutan mangrove yang mereka sebut sebagai hutan ‘bako’ yang berada di kawasan. “Kan kelihatannya rimbun. Itu di luarnya saja. Bahagian dalamnya itu lapang, seperti lapangan bola. Kalau mau bola sudah cocok tempat itu” ucap salah seorang di antaranya dengan tertawa. Saya tahu bahwa itu gaya bahasa hiperbola, tetapi kondisi lahan yang kritis diamini yang lainnya. Diantara mereka juga menceritakan bahwa tahun 1994 ada program pemberian hak pengelolaan hutan dengan berkebun bakau secara berkelompok. Masyarakat sudah menanaminya, katanya upah tanamnya akan diganti dan kelompok akan diberi hak pengelolaan. “Tetapi tidak ada apapun” ucapnya.

Begitulah warung itu mendadak menjadi tempat diskusi. Diskusi kelompok terfokus (FGD) dadakan dan moderator yang juga dadakan. Tidak ada dalam rencana bahwa salah satu teknik pengumpulan data melalui diskusi kelompok. Namun, dari yang serba dadakan dan kebetulan ini, kami memperoleh banyak informasi penting yang akan kami perdalam ketika wawancara mendalam. ….(bersambung).

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: