//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (3)

Rencana kerja kami di hari pertama adalah melakukan observasi. Sesuai dengan tema penelitian terkait dengan pengetahuan masyarakat terhadap fungsi hutan, kami akan melakukan pengamatan terhadap pemanfaatan kayu di lingkungan permukiman dan peralatan penangkapan ikan. Sementara di kawasan hutan mangrove mengamati kondisi hutan desa dan hutan Suaka Alam Karang Gading yang masuk wilayah administrasi desa.

Sekali lagi memeriksa peralatan penelitian. Buku catatan, ballpoint dan kamera sudah dimasukkan ke dalam tas. Siap berangkat. Permisi ke tuan rumah, kami ayunkan langkah menuju ke Utara desa menyusuri pemukiman dimulai dari Dusun III. Menapaki jalan desa yang diantaranya bercor semen, berpengeras batu dan jembatan papan. Jalan utamanya berada di depan kantor kepala desa yang diberi nama Jalan Pawang Abu Bakar. Satu-satunya jalan yang diberi nama di desa ini sebagai penghormatan terhadap pembuka desa.

Pemukiman desa Jaring Halus memanjang dari utara ke selatan dengan luas 5 ha dengan jumlah penduduk sekitar 2000-an jiwa yang terbagi atas 3 dusun. Pusat desa berada di Dusun III. Di dusun ini terdapat berbagai sarana seperti pemerintahan (kantor kepala desa), peribadatan (mesjid), pendidikan (sekolah dasar), dermaga dan pusat ekonomi, yakni pelantaran yang merupakan tempat pendaratan ikan, pengolahan ikan dan budidaya perikanan. Bangunan permanen dan semi permanen umumnya berada di dusun ini. Hal ini terkait dengan letak dusun III yang berada di sekitar muara terbentuk secara alamiah lebih tinggi dari wilayah lainnya. Sehingga memungkinkan untuk didirikannya rumah permanen dan semi permanen. Sementara sebahagian besar pemukiman lainnya, terbuat dari rumah papan bertangga untuk menghindari banjir ketika air pasang. Sebahagian besar wilayah pemukiman digenangi air ketika pasang besar yang penduduk setempat menyebutnya pedani. Pasang pedani ini umumnya terjadi dua kali dalam setahun.

Menyusuri jalan-jalan di pemukiman padat sambil melakukan pengamatan memang asyik. Bentuk, lebar dan bahan dari bangunan rumah dan jalan desa yang bervariasi. Ada jalan tanah, ada pula yang berbatu, semen dan terbuat dari papan. Mengayunkan langkah di jalan papan yang seperti jembatan akan jadi pengalaman khusus. Suara hentakan kaki layaknya irama musik yang indah  dipadu kewaspadaan tingkat tinggi karena tidak keseluruhan papannya masih dalam keadaan baik. Kami berjalan terus ke arah utara dari kantor kepala desa hingga ke ujung desa, dimana tempat pelantaran umumnya berada, keseluruhan bangunan berada di atas air dengan pancang-pancang kayu yang tinggi. Satu pelantaran dengan pelantaran lainnya dihubungkan oleh jembatan papan sekitar 30 centimeter. Kami melangkah dengan sangat hati-hati sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Bahagian terindah untuk menikmati keindahan alam Desa Jaring Halus bisa diperoleh dari tempat ini. Hamparan lautan, muara, pantai, dan hijaunya hutan, kumpulan perahu yang bersandar, dan nelayan yang sedang bongkar muatan, ibu-ibu dan remaja putri yang mengolah dan menjemur ikan jadi bentangan panorama indah desa ini. Tetapi harus tetap hati-hati, karena jika tidak, akan terjatuh ke laut dan lain lagi ceritanya.

Di perjalanan dari rumah kepala desa menuju pelantaran di ujung utara desa, kami melihat tumpukan kayu bakar. Seorang pemuda sedang menyusun tumpukan kayu itu kami hampiri. “Banyak kayunya bang, untuk kayu bakar” tanyaku memulai pembicaraan. Ia menjawab dengan ramah bahwa kayu itu untuk keperluan memasak di pesta pernikahan beberapa hari ke depan. Dari pemuda ini, yang bernama Saad kami tahu bahwa kayu bakar itu diambil di hutan suaka oleh pemuda desa.

Di Desa Jaring Halus ada kebiasaan untuk keperluan pesta, tuan rumah tidak lagi dipusingkan oleh keperluan kayu bakar yang relatif besar. Pemuda desa di dusunnyalah yang akan bertanggung jawab untuk menyediakannya. Pemuda juga urungan dana untuk menyewa hiburan pesta berupa organ tunggal. Harga kontraknya bisa tiga kali lipat di banding harga di Stabat untuk organ tunggal yang sama. Ketika itu, tahun 1996 harga kontrak pemain keyboard, biduan dan peralatannya di Stabat sekitar Rp. 350.000 rupiah. Sementara di Desa Jaring Halus biayanya sekitar 1 juta rupiah. Harga itu belum termasuk biaya transportasi air dari Secanggang ke Jaring Halus. Semuanya di tanggung pemuda desa demi untuk sebuah hiburan. Letak Desa Jaring Halus yang terpencil, hiburan keyboard di waktu pesta adalah satu-satunya sarana hiburan bagi para pemuda yang haus hiburan. Lagu dangdut, dendang melayu dan india merupakan jenis lagu yang disukai penduduk. Di malam itu, pemuda dan pemudi akan memakai pakaian terbaiknya, yang diantaranya bergaya layaknya artis ibukota.

Bang Saad, pemuda itu awalnya mengira kami adalah pendatang yang akan memancing. Memang
di desa ini banyak di datangi pemancing terutama di hari Sabtu dan Minggu. Barulah Ia mengetahui maksud keberadaan kami setelah kami jelaskan. Itu pun setelah lama mengobrol. Sayapun menyimpulkan bahwa penduduk di desa ini sangat terbuka dengan pendatang. Sama sekali tidak ada rasa curiga terhadap orang baru dan tidak dikenal.

Kami pun langsung akrab dengan Bang Saad. Ia pun bersedia menemani kami keliling desa dan ke hutan untuk melakukan pengamatan. Kesediaannya menjadi pemandu, membuat kegiatan observasi kami menjadi lebih mudah. Setiap temuan, kami bisa langsung menanyakan padanya. Seperti sumber kayu nibung untuk pancang atau penyanggah rumah, pelantaran dan tiang ambai (alat tangkap pasang surut) serta berbagai jenis kayu yang diambil dari hutan mangrove untuk keperluan rumah tangga dan alat perikanan. Kami jadi tahu bahwa penyebab kerusakan hutan suaka alam yang berada di wilayah desa adalah usaha pabrik arang bakau. Sementara, pabrik arang tidak ada di desa dan tidak seorangpun penduduk Desa Jaring Halus yang bekerja di pabrik arang maupun yang menjual kayu ke pabrik arang. Begitupun, tudingan perusak hutan tak jarang diarahkan ke penduduk desa ini.

Wawancara Dengan Informan Kunci

Hari pertama sukses. Kami berhasil mengamati, mencatat dan memfoto pemanfaatan kayu dari hutan di lingkungan pemukiman. Cukup banyak catatan, tepatnya coretan di buku catatan penelitian. Saya sebut coretan, karena beberapa diantaranya tidak bisa saya baca, point-point yang saya tulis sendiri. Tulisan tangan saya yang pada dasarnya jelek, semakin kacau ketika harus berlomba menuliskan keterangan dari pemandu gratis kami yang baik hati, Bang Saad. Begitu semangatnya mencatat, hampir mencatat semua yang saya anggap menarik, walaupun tidak begitu relevan. Misalnya cukup banyak jumlah kambing di desa ini, tetapi kami tidak melihat ada rumput.

Di buku catatan ku tuliskan kalimat,”Puluhan kambing bergerombol berburu makanan. Semuanya gemuk padahal tidak ada rumput. Ini kambing ajaib kali ya, belum pernah ku lihat bahwa kambing bisa hidup sehat hanya dengan makan sampah dari kertas bekas, plastik, daun pisang bekas bungkus tempe, dan lainnya yang berserakan di tanah”. (bersambung…)

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

2 respons untuk ‘Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (3)

  1. bg, masukan gambarnya ya bg….

    Posted by didi | September 1, 2011, 10:36 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: