//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (2)

Kepala desa tiba. Namanya Kasim, lelaki separuh baya. Masih satu garis keturunan dari pembuka desa dan kepala desa Jaring Halus yang pertama, yakni Pawang Abu Bakar. Padanya kami memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud serta tujuan datang ke desa. Kami juga berterus terang bahwa kami baru pertama kali datang ke desa ini dan tidak banyak tahu tentang kebiasaan setempat terutama yang boleh dan tidak boleh sesuai dengan adat istiadat setempat. Sikap terus terang dan minat yang kami tunjukkan atas keterangannya, membuat Pak Kades bersemangat. Beliau menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan kami, termasuk perihal makanan yang tidak aman untuk dikonsumsi alias mengandung racun dan kebiasan meracuni makanan. Pertanyaan soal racun di makanan dan tempat tinggal kami selama penelitian merupakan pertanyaan yang diajukan setelah terbangun hubungan yang akrab dan kekeluargaan. 

Kami ditawari untuk tinggal dan makan di rumahnya. Dengan senang hati kami menerima tawaran menginapnya dan untuk makan kami meminta di warung saja karena tidak ingin merepoti tuan rumah. Pak Kades setuju saja dan merekomendasikan warung terdekat untuk tempat kami makan. Rekomendasinya semata-mata hanya alasan jarak karena menurutnya semua warung yang ada di desa aman dari praktek meracuni makanan. Logikanya, pedagang berjualan itu mencari untung, jika orang curiga bahwa makanannya tidak aman, tak akan ada pembelinya. “Tidak enak saje orang malas beli, apalagi ade racunnye” ucapnya dalam logat Melayu menyakinkan. Begitupun Ia tidak berani menjamin untuk keseluruhan penduduk. “Saye jamin aman makan dan minum di rumah penduduk yang tinggal di Dusun II dan III. Tetapi untuk Dusun I, saya tidak berani. Di Dusun I banyak pendatang, kalau di Dusun II dan III saya kenal semua, masih sanak keluarga” ucapnya.

Saya percaya saja apa yang disampaikan kepala desa. Beliaulah informan pangkal kami dalam penelitian itu. Tetapi yang terpenting adalah mengikuti petuah orang tua bahwa semua orang takut keracunan. Seseorang yang punya kebiasaan mencelakai orang lain dengan racun akan dijauhi oleh warga sekitarnya. Diidentifikasi sebagai yang patut dicurigai walaupun tidak ada yang berani memastikan. Dalam pemahaman seperti itu, seorang peracun tidak akan jadi pemuka di masyarakat apalagi menjadi kepala desa.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Pak Kades, Kasim ternyata sangat ramah dan senang mengobrol. Untunglah, logat melayu yang mirip dengan bahasa Melayu Malaysia tidak mengganggu komunikasi kami. Hampir keseluruhan kata-kata yang beliau ucapkan bisa kami mengerti kecuali beberapa kata seperti ‘ayak’ untuk menyebut air. Setiap kata yang tidak kami mengerti, kami tanya langsung maksudnya.

Hari mulai senja. Listrik menyala bersamaan dengan deru mesin diesel tak jauh dari rumah kepala desa. Mesin diesel ini  khusus ditempatkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) mensuplai kebutuhan listrik warga desa Jaring Halus. Letak desa yang terpencil dengan jarak yang cukup jauh dari desa lainnya, dipisahkan oleh hutan sehingga membutuhkan biaya yang besar untuk pemasangan sambungan listrik.  Tak ada sambungan langsung listrik PLN, dengan mesin diesel, listrik hanya menyala 12 jam, yakni dari pukul 6 sore dan 6 pagi. Keriuhan suara televisi dan radio tape di malam hari tak akan terdengar di siang hari.

Waktu magrib akan tiba. Lantunan ayat-ayat Al Quran menggema dari Mesjid Takwa, mesjid terbesar di desa ini dengan megahnya menara yang terlihat dari kejauhan ketika masih berada di muara menuju desa. Kamipun permisi ke tuan rumah untuk mandi. Ternyata kesediaan air tawar di desa ini jauh dari melimpah. Di rumah kepala desa hanya tinggal satu drum dari dua drum yang dijadikan wadah penampuangan air. Wadah ini diletakkan di kamar mandi setengah terbuka di samping kiri rumah. Air tawar ini digunakan untuk kebutuhan memasak, mandi dan mencuci. Sementara kakus, ada di setiap pelantaran. Jika kami gunakan untuk mandi dengan frekuensi sesuai dengan kebiasaan di Medan, maka air tersebut dipastikan akan habis. Sementara, suplai air tawar hanya sekali dalam sehari dari sumur bor yang dikelola oleh Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

Kemungkinan itu tampaknya sudah diduga oleh Pak Kades. Kamipun diarahkan untuk mandi di kamar mandi mesjid. Di tempat ini air cukup berlimpah karena di tampung di bak yang relatif besar. Rasa gerah hilang, badan kembali terasa segar.

Mulai Mengumpulkan Data

Makan malam sudah. Kami memeriksa kembali alat pengumpulan data. Panduan wawancara, kuesioner, dan kamera sudah tersedia. Ketika kami membolak-balik panduan wawancara, kepala desa datang menghampiri. Berbincang santai dan kami menanyakan tentang sejarah desa dan pengelolaan hutan mangrove. Beliau menjelaskan beberapa hal yang Ia ketahui. Kemudian menginformasikan informan yang menurutnya paling paham yakni Pawang Zakaria dan Pak Usman. Pawang Zakaria adalah mantan kepala desa dan sekarang menjadi Pawang Laut, pemimpin informal yang sangat dihormati warga. Beliau adalah cucu laki-laki tertua dari Pawang Abu Bakar, pendiri desa dan juga paman dari kepala desa. Menurut Pak Kades, dimasa  beliaulah kepala desa dibuat aturan mengenai pengelolaan hutan desa dan kegiatan penanaman mangrove di hutan suaka Karang Gading. Sementara informan lainnya, Usman atau di panggil Pak Man adalah sepupu dari kepala desa turut serta dalam kegiatan penanaman bakau di hutan desa yang dilaksanakan oleh LPPM USU maupun LSM Yasika di tahun 1995. Pak Man juga telah melakukan penanaman bakau di hutan desa secara mandiri.

Malam semakin larut. Kepala desa mempersilahkan kami tidur di tempat yang telah dipersiapkan Bu Kades dengan bantal dan sarungnya. Setelah mensepakati kegiatan esok harinya, kami pun tidur. Tidak ada was-was. Semua kekhawatiran yang bebani sewaktu di Medan hingga perjalanan telah sirna. Desa Jaring Halus ternyata tempat yang menyenangkan.

Bangun pagi, terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Tetap di kamar mandi mesjid. Lalu pergi ke warung untuk sarapan pagi. Tentu saja ke warung yang direkomendasikan kepala desa. Iseng bertanya nama pemilik warung. Ibrahim, sama dengan nama yang disebut oleh Bang Dani bahwa Ia punya teman di Desa Jaring Halus, anggota tarekat Naqsahbandiyah. Ku coba tanyakan apakah beliau kenal dengan Hamdani Harahap. Ternyata betul, beliau orangnya. Bertambah lagi keluarga walaupun makan tetap bayar. (bersambung)

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: