//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (1)

Satu sisi Desa Jaring Halus

Satu sisi Desa Jaring Halus

Desa itu bernama Jaring Halus. Salah satu desa di Kecamatan Secanggang, Langkat. Desa nelayan di pulau kecil di sekitar hutan suaka margasatwa Karang Gading. Desa yang wajahnya menghadap muara dan punggungnya menghadap ke laut Selat Malaka. Sisi kirinya, di penuhi rimbunnya hutan desa dan kritisnya hutan suaka. Sisi kanannya, pesisir pantai yang tergerus ombak yang semakin jauh masuk ke daratan. Abrasi air laut menjadi ancaman serius bagi keberadaan desa di masa yang akan datang, selain degradasi sumberdaya pesisir laut. Begitupun desa ini tidak pernah kehilangan pesonanya. Jika pembandingnya adalah desa-desa di pesisir timur Sumatera Utara, jelas Desa Jaring Halus unggul atas keindahan alamnya dan keramah-tamahan masyarakatnya. Siapun yang pertama kali sampai ke desa akan terpesona ketika perkampungan tampak dari kejauhan dengan satu menara yang menjulang dan pancang-pancang kayu nibung menyanggah rumah dan pelantaran (tempat pendaratan dan penjemuran ikan). Semakin dekat akan semakin eksotik dengan jaring-jaring keramba di bawah pelantaran, di atasnya di jemur ikan cica rebung yang putih bersih berkilau oleh cahaya matahari. Di antara satu pelantaran ke pelantaran lainnya atau dari pelantaran ke darat disusun papan bekas selebar setengah meter sebagai jalan yang beberapa bahagiannya terlihat rapuh. Berjalan di atasnya diiringi deburan ombak dan tiupan angin laut yang kencang akan menjadi pengalaman yang menantang. Pastinya harus ekstra waspada, jika tidak bisa kecebur ke laut. Tetapi tidak usah takut, karena belum ada informasi bahwa penduduk setempat jatuh terperosok di titi papan tersebut.

Pastinya desa ini memiliki pemandangan yang indah. Jika pun ada kurangnya menurut beberapa warganya adalah desa ini tidak bisa dijangkau melalui alat transportasi darat. Tetapi menurutku, jika desa ini bisa dijangkau langsung melalui transportasi berkuranglah keeksotikannya. Memang transportasi darat hanya sampai Pelabuhan Batang Buluh, Kecamatan Secanggang. Selanjutnya harus melalui transportasi air berupa perahu motor bermesin tempel. Dan petualangannya dimulai ketika perahu itu menyusuri sungai di areal hutan konservasi menuju desa. Deruan mesin tempel beradu dengan suara percikan air dibelah moncong perahu, suara monyet yang bercanda di pepohonan, kicauan burung yang bercanda dan melayang-layang di udara akan menjadi pemandangan di sepanjang perjalanan.

Menuju desa ini dari Medan dengan kenderaan umum, bisa naik angkot ke simpang terminal Pinang Baris. Ini kebiasaanku, karena aku tidak pernah mau masuk ke terminal. Jika naik bus dari terminal, setelah menunggu cukup lama di terminal, nantinya busnya akan berhenti lagi di simpang untuk mencari penumpang. Menunggunya menjadi ganda dibanding kalau langsung ke bus yang ngetem di simpang itu. Nama bus nya adalan Pembangunan Semesta yang line Medan – Pangkalan Susu. Jika ingin lebih cepat, juga bisa menggunakan Tim Tak, minibus yang melayani trek Medan – Pangkalan Susu. Tarifnya juga berbeda, dengan bus Pembangunan Semesta anda cukup mengeluarkan ongkos separuhnya, namun waktu tempuhnya hampir dua kali jika dengan Tim Tak. Di Kota Stabat, simpang pajak turun dan menyambung angkot menuju Dermaga Batang Buluh, Secanggang. Dari Batang Buluh menuju Desa Jaring Halus dilanjutkan dengan perahu bermotor. Dermaga Batang Buluh dibangun sekitar tahun 1999. Sebelumnya mencapai Desa Jaring Halus melalui Sungai Secanggang dan Sungai Tanjung Pura.

Desa Jaring Halus dalam Kenangan

Persentuhan pertama ku dengan desa ini, Juni 1996. Ketika itu, proposal penelitian kami berhasil menang di Lomba Karya Inovatif Produktif (LKIP) untuk bidang sosial dan humaniora. Tim kami yang terdiri dari saya, Agung, Sahat dan Puspa dari angkatan 92 bersama dengan satu tim lainnya dari Fakultas Hukum mewakili USU yang proposalnya dibiayai oleh Dikti untuk dilanjutkan penelitiannya. Ketika itu, hanya saya dan Sahat yg ke lapangan. Agung ada acara keluarga yang mengharuskannya pulang ke Jakarta. Sementara Puspa, cewek satu-satunya di tim kami, tidak mendapat ijin dari orang tuanya.

Saya dan anggota tim lainnya belum pernah ke Desa Jaring Halus. Sumber informasi tentang desa selanjutnya menjadi bahan kami mendesain proposal setahun sebelumnya adalah Bang Dani (Hamdani Harahap). Ketika kami menyatakan minat untuk mengikuti LKIP beliau yang menjabat Ketua Jurusan menawarkan untuk melakukan kajian tentang sumberdaya pesisir di Desa Jaring Halus. Kami pun bersepakat untuk mengkaji tentang persepsi masyarakat terhadap hutan mangrove. Membaca referensi hingga proposal selesai, saya dan tim tidak memiliki pengetahuan yang utuh tentang hutan mangrove yang sering juga disebut dengan hutan bakau. Diantara kami masih ada pandangan bahwa pohon bakau ini sama dengan tembakau yang merupakan bahan baku untuk rokok. Begitulah, hutan bakau dan Desa Jaring Halus sama kaburnya. Ketika akhirnya keluar pengumuman proposal kami menang, Kak Neni, staf PD III itu dengan bangga menyampaikannya, malah sangat was-was. Terlebih Agung yang diandalkan untuk mengetik komputer, akan pulang ke Jakarta. Sementara anggota tim lainnya belum tahu mengoperasikan komputer yang ketika itu masih menggunakan sistem Dos. Umumnya mahasiswa masih mengerjakan tugas dan skripsi dengan mesin tik. Kemenangan yang jadi beban. Tim yang tidak lengkap dan keterbatasan informasi tentang lokasi penelitian telah menyebabkan beban tanggungjawab pelaksanaannya semakin berat. Tetapi saya dan Sahat sudah bersepakat bahwa kami akan pergi ke lapangan.

Informasi tentang desa terus dikumpulkan, daftar pertanyaan telah disiapkan, administrasi seperti surat keterangan dari fakultas juga sudah di tangan, namun rasa was-was belum hilang. Diantara informan yang merasa tahu tentang desa tersebut memberikan informasi yang menakutkan yakni racun di makanan dan mengingatkan untuk berhati-hati.

Perjalanan dimulai. Masih pagi sekali, saya berangkat dari rumah. Janji ketemu dengan Sahat di simpang Terminal Pinang Baris. Tiba di tempat itu, beliau belum tiba. Menunggu beberapa saat, Ia pun muncul. Kami berangkat. Bus Pembangunan Semesta yang kami bergerak perlahan. Kenek yang meminta ongkos, kami meminta untuk memberitahukan jika kami sudah sampai ke tujuan. Kota Stabat simpang pajak. Khawatir kelewatan, kami sudah memesannya ketika bus bergerak beberapa ratus meter dari Simpang Terminal Pinang Baris. Kami juga meminta ke penumpang di sebelah kami untuk memberitahukan jika kami telah tiba.

Sekitar satu setengah jam perjalanan kami tiba di Stabat. Kenek tidak lupa dan menginformasikan bahwa kami telah tiba, begitupun penumpang sebelah kami menambahkan bahwa kami bisa naik beca atau berjalan kaki ke terminal angkot ke Secanggang. “Jaraknya dari pertigaan kami turun hanya sekitar 400 meter ke terminal angkot” ucapnya menjelaskan.

Kami memilih jalan kaki. Menyusuri pertokoan menuju terminal pembantu. Tiba di terminal, bertanya ke penjual es, angkutan ke Secanggang. Ia menunjukkan mini bus yang parkir di luar terminal yang disebutnya mopen. Kami mendatangi mopen yang beliau tunjukkan, bertanya lagi untuk memastikan. Kamipun menunggu sejam lebih sebelum berangkat. Mopen menuju Secanggang ini tidak akan berangkat sebelum penumpangnya penuh.

Waktu tempuh perjalanan sekitar 40 menit. Tiba di jembatan Secanggang sekitar pukul 11.00 Wib. Turun menyusuri tepi sungai sesuai dengan petunjuk penduduk setempat yang kami tanya. Menuju perahu penumpang ke Desa Jaring Halus. Perahu motor ini juga menunggu penumpang penuh sebelum berangkat. Sembari menunggu, kami ke warung makan di tempat itu. Cerita tentang racun di Desa Jaring Halus adalah alasan utama kami makan lebih awal sehingga ketika tiba di lokasi punya waktu untuk mendapat informasi tempat makan yang aman.

Logat kami yang berbeda, pemilik warung sudah tahu bahwa kami bukan penduduk Desa Jaring Halus. Pertanyaan kami tentang desa telah memastikan ke pemilik warung bahwa kami baru pertama kalinya ke desa itu. Kagetnya, Ia pun mengingatkan kami untuk tidak makan di sembarang tempat. Menurutnya di desa ini masih ada peracun yang memiliki kebiasaan meracun tamunya melalui makanan.  Kami makin percaya akan kebenaran informasi soal peracun itu. Walaupun si ibu pemilik warung itu juga mendengar khabar dari orang lain dan tidak memiliki informasi spesifik siapa orangnya maupun seseorang yang pernah menjadi korban. Soalnya, informasi tentang itu sudah pernah saya pernah dengar sebelumnya yang disampaikan oleh seorang staf di Pemkab Langkat ketika mengumpulkan data sekunder tentang kondisi hutan mangrove di Langkat.

Tepat tengah hari, perahu motor berangkat. Menyusuri Sungai Secanggang menuju Desa Jaring Halus. Di sebelah kiri di pinggiran sungai di Desa Secanggang puluhan dapur arang sedang beroperasi dengan tumpukan kayu bakau di sekitarnya. Beberapa perahu bermotor bermuatan penuh kayu bakau melakukan bongkar muat. Beberapa meter dari salah satu pabrik arang terdapat pos BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Di sebalah kanan kami, terdapat hamparan tambak udang di kawasan hutan yang sedang beroperasi dan diantaranya tampak petak tambak yang sudah ditinggalkan.

Kebun bakau, selain berfungsi untuk mencegah abrasi juga menjadi stok kebutuhan masyarakat untuk kayu

Kebun bakau, selain berfungsi untuk mencegah abrasi juga menjadi stok kebutuhan masyarakat untuk kayu

Perahu terus melaju dengan kecepatan rendah. Kami semangkin jauh dari perkampungan. Tidak terlihat lagi pabrik arang dengan dapur-dapurnya mengeluarkan asap pembakaran. Hamparan tambak juga semakin jarang terlihat. Hutan mangrove tampak semakin rimbun. Terutama di habitat pohon api-api, salah satu jenis mangrove. Kumpulan monyet bercanda di ranting pohon yang menjuntai ke sungai. Kicauan burung bersahutan diantara riuhnya suara monyet yang rebutan makanan dan deru mesin perahu. Nelayan memasang jaring pasang surut di sungai dan menyisakan setengah bahagian sungai untuk lintasan perahu nelayan yang hilir mudik menuju dan dari desa-desa yang ada di muara sungai dan hilir mudiknya nelayan yang menangkap ikan ke laut.

Satu jam perjalanan tidak terasa. Kami telah tiba di muara. Lautan di depan mata seakan tanpa tepi. Deburan ombak cukup besar menggoyang perahu. Pemukiman tampak di kejauhan bersebelahan dengan hamparan hutan bakau yang lebat. Sungguh berbeda dengan kawasan lainnya yang kami lihat selama perjalanan. Kami telah tiba di Desa Jaring Halus. Desa nelayan yang kami bayangkan bentuk dan masyarakatnya dari cerita-cerita yang tidak seluruhnya menyenangkan. Kami langkahkan kaki keluar dari perahu, menapaki dermaga menuju rumah kepala desa.

Di rumah kepala desa kami disambut dengan ramah oleh isterinya. Kepala desa sedang tidak di rumah, isterinya menyuruh anaknya untuk menjemputnya. Kami ditawari makan, dari waktunya memang jam makan siang. Saya menyahut, bahwa kami sudah makan di Secanggang. Si Ibu terlihat gusar, dan berkata,”Hati-hati makan di Secanggang tu. Banyak racun. Saya tak pernah berani makan di tempat tu”. Bah, mana yang betul, ucapku membatin. Ketika di Secanggang katanya yang peracun itu adanya di Jaring Halus. Setibanya di Jaring Halus, peracunnya disebut adanya di Secanggang. (bersambung)

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

2 respons untuk ‘Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (1)

  1. Senang kali baca tulisan ini. Makin rindu dg jaringhalus. Jaring halus adalah kampung suami saya, bung Saruhum. Tp kami brdomisili di Sumatra Barat.

    Posted by syafitri ramadiani | Mei 27, 2012, 12:18 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: