//
you're reading...
Cerpen Kampus

Mr. A dan Mahasiswanya

image

Mr. A sedang kesal. Kesal dengan perilaku beberapa mahasiswanya yang tidak serius belajar ketika berada di Museum Binatang Liar (Rahmat Wildlife Galery). Ia lalu mengumpulkan keseluruhannya di tempat yang istimewa dan paling bermakna menurutnya. Tempat itu adalah  ruang pajang kumpulan babi . “Kalian amati babi-babi ini dengan seksama. Kenali secara sungguh-sungguh bentuk fisiknya, pelajari sifat-sifatnya lalu bandingkan dengan sifat kalian”. “Ini sungguhan Pak” tanya seorang mahasiswa. “Sungguhan apa maksudmu” tanya Mr. A dengan nada tinggi. “Ini pak babinya, babi sungguhan ya pak”. “Ya sungguhanlah, itulah kau pelajari tetapi jangan kau elus-elus ya. Nanti jatuh cinta pula kau sama babi betina itu, lalu kau minta tinggal dan diawetkan. Buat repot pemilik galery ini saja” jawab Mr. A ketus. “Wah, bisa jadi koleksi terganteng aku Pak” sambutnya. Mahasiswa lainnya tertawa. Mr. A hanya tersenyum. Suasana yang sempat tegang kembali mencair.

Mr. A adalah dosen pavorit di kampusnya. Terutama bagi mahasiswa antropologi. Mr. A bersungguh-sungguh dalam mengajar. Bahan perkuliahan  dipersiapkan secara matang. Di samping itu selalu mengkombinasikan antara proses belajar mengajar di kelas dan lapangan pada setiap mata kuliah yang diasuhnya. Mahasiswa menyukai metodenya walaupun harus mengeluarkan dana lebih. “Pengetahuan baru diperoleh, wisata terpenuhi,” sebut mahasiswa. Kota Medan merupakan lokasi terfavorit Mr. A untuk kuliah lapangan.

Kota Medan memang salah satu tempat kunjungan wisata utama wisatawan asal Aceh. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Aceh, banyak pusat perbelanjaan (mall/plaza) dan pusat hiburan yang tidak bisa ditemukan di Aceh. Sudah rahasia umum di Kota Medan bahwa toke-toke Aceh yang nakal menjadikan Kota Medan menjadi surga dunia. Beberapa diskotek dan tempat prostitusi di Kota Medan dan sekitarnya menjadikan para toke asal Aceh ini sebagai tamu istimewa. Membawa uang puluhan juta rupiah dan royal belanja serta memberi tips sehingga menjadi sumber pemasukan terbesar bagi wanita penghibur dan pengusaha diskotik. Mereka ini biasanya turun dari Aceh pada Jumat Sore dan pulang pada hari Minggu malam.

Mahasiswa Mr. A tentu bukanlah toke. Tujuan utamanya belajar, dan berwisata adalah bonus. Di bawah pengawasan Mr. A, mahasiswa tidak bisa melakukan sebaliknya. Hanya saja, Mr. A seringkali gregetan juga dengan ragam tingkah mahasiswanya. Idealnya mahasiswa, terlebih mahasiswa Antropologi seperti yang dibayangkan Mr. A ditampilkan berbeda oleh mahasiswanya. Baginya, mahasiswa itu harus kreatif, punya rasa ingin tahu yang besar, berpikiran maju, dan tidak pengecut. Untuk mahasiswa Antropologi tambahannya adalah terbebas dari sekat-sekat primordialisme suku, agama dan golongan serta berdiri paling depan mengkampanyekan pluralisme dan multikulturalisme.

Cara pandang  itulah yang menuntun Mr. A menuntut perhatian lebih mahasiswanya terhadap babi.  Juga menambahkan gereja sebagai tempat yang harus dikunjungi. Pasalnya, sehari sebelumnya ia memperhatikan bahwa sebahagian mahasiswa menunjukkan rasa jijik ketika melihat kepala dan daging babi yang digantung di pasar Tiga Panah dengan menutup mulut dan hidungnya plus komentar yang merendahkan. Namun ketika singgah di Mesjid Kamal Sibolangit di waktu Shalat Ashar  tak satupun mahasiswa yang shalat. Di perjalanan, Mr. A sempat menyindir mahasiswa. “Kalian ya, melihat babi begitu jijiknya, tetapi pas waktu shalat tidak ada yang shalat.  Masak singgah di mesjid hanya untuk kencing saja” .

“Aku sudah duga ini akan terjadi” ucap Mr.A dalam hati, ketika kemudian berkembang isu bahwa Ia telah melakukan tindakan yang tidak patut terhadap mahasiswa. Perintahnya untuk membandingkan sifat babi dengan mahasiswa dan memerintahkannya untuk mengunjungi gereja, dianggap sebagai bentuk penghinaan agama dan telah melukai kenyakinan mereka. Koleganya di kampus menyerangnya dengan ucapan yang merendahkan. Ia sudah memberi penjelasan singkat dan tak lagi peduli koleganya terima atau tidak. Intinya, Mr. A tidak lagi mau mendebatkannya seperti ketika harus berdebat mempertahankan alasannya menghadirkan Antropolog dari Univesitas Katolik di German yang sedang melakukan penelitian di Aceh untuk memberikan kuliah di kelasnya.

Mr. A tidak bermasalah dengan mahasiswanya. Tetapi koleganya di birokrat kampus tak kunjung menerima cara pandangnya. Ini membuatnya ragu apakah ke depan masih ada tempat di kampus baginya untuk membumikan nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme. Ia sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Hijrah dari ke negeri yang menghargai kebebasan berpikir dan berkreasi.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: