//
you're reading...
Uncategorized

Mahasiswa Antropologi Unimal Di Rumah Bolon

image

image

“Ayo naik ada butik dan perhiasan di dalam” teriak seorang wisatawan kepada teman-temannya yang enggan masuk ke Rumah Bolon. Teman-temannya hanya tersenyum dan tidak beranjak. Mereka hanya berfoto dua atau tiga kali jepretan selanjutnya berbincang diantara mereka sambil menunggu keberangkatan ke objek wisata lainnya. Kurang dari lima belas menit, rombongan wisatawan itu sudah pergi.

Tak lama datang lagi rombongan wisatawan lainnya sekitar 30-an orang. Umumnya sudah berumur 50-an tahun ke atas. Aku hanya menebaknya karena ku lihat sudah pada keriput. Hanya ada sepasang bule yang masih segar. Mungkin anak diantara pasangan bule lainnya. Ku lihat pasangan muda ini tidak begitu menikmati objek wisata Rumah Bolon seperti anggota rombongan lainnya yang menyimak penjelasan pemandu wisata yang begitu bersemangat. Pemandu itu sangat fasih  berbahasa asal rombongan wisatawan ini. Aku yang berdiri berada tak jauh dari rombongan ini tak mengerti percakapan mereka dan juga tak memahami apa yang disebut si pemandu. Ku pastikan mereka tidak berbahasa Inggris. Mungkin bahasa Jerman. Mungkin juga Belanda. Entahlah, tetapi aku tidak mendengar kata Opperdome, inlander, ekstrimis dan ucapan Belanda lainnya seperti yang pernah ku dengar dalam film perjuangan melawan Belanda.

Kembali ke seorang wisatawan yang menginformasikan bahwa di dalam ada butik dan perhiasan, ia tidak bersungguh-sungguh. Teman-temannya pun, yang umumnya perempuan separuh baya ini,  tahu bahwa ia sedang bercanda untuk menyemangati. “Ayo naiklah udah jauh-jauh ke sini, tidak lihat ke dalam sayang sekali” bujuknya. Teman-temannya tidak juga tertarik untuk masuk ke Rumah Bolon itu. Dari sekitar 40-an jumlah anggota rombongan itu, kurang dari separuhnya yang masuk. Itu pun beberapa diantaranya hanya sampai ke ruang depan saja dan kemudian turun lagi.

Rombongan yang ini seluruhya keturunan China. Juga pemandunya. Dari logatnya, wisatawan ini bukanlah berasal dari Kota Medan dan sekitarnya. Saya tahu persis logat China Medan yang khas. Aku menduga mereka wisatawan dari Jawa Timur atau Jawa Tengah, karena logatnya yang medok Jawa.

Rombongan berikutnya bercirikan : sebaya dengan umur berkisar 18 – 20 tahun, kulit sawo matang, suka bergerombol walaupun bukan gerombolan dan umumnya mengenakan jaket almamater. Anda benar, mereka adalah mahasiswa. Rombongan ini berjumlah 40 orang plus dua orang dosen pendamping. Jika anda mendengar mereka berbicara, dengan mudah anda juga akan tahu bahwa mereka berasal dari Aceh. Tepatnya Mahasiswa Antropologi Universitas Malikul Saleh (Unimal). Ini bukan dugaan dari logatnya, atau jaket almamaternya. Aku memang tahu persis, karena aku ikut dalam rombongan mahasiswa tersebut. Mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Antropologi Museum. Kunjungan ke objek wisata ini, dan tempat lainnya di Medan yakni Museum Negeri dan Rahmat Wildlife Galery merupakan kuliah tambahan dari pertemuan di kelas.
***

Jumat, 3 Juni 2011, pukul 11.00 Wib, akhirnya saya dan rombongan mahasiswa Unimal tiba di lokasi Rumah Bolon. Rumah atau istana Kerajaan Purba ini berada di Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, kami tempuh selama 4 jam perjalanan. Seharusnya tidak selama itu. Bus pariwisata yang sebesar bus ALS, jalan yang berkelok-kelok dan mendaki terutama di Sibolangit hingga Berastagi, membuat bus ini tidak bisa melaju maksimal. Tetapi masalah utamanya adalah parkir mobil yang sembarangan dari undangan pesta masuk rumah di Desa Tiga Panah. Bus kami sempat tertahan lebih dari 15 menit dalam kemacetan. Di tambah jalan yang buruk dan relatif sempit untuk bus sebesar itu, waktu tempuh kami menjadi dua kali lipat dari yang seharusnya.

Sesampai di Rumah Bolon, saya terkagum-kagum. Bukan karena sejarah dan keindahan bangunannya. Saya tidak begitu tertarik terhadap bangunan tua dan sejarahnya. Kecuali bangunan Candi Borobudur dan Prambanan yang begitu mengagumkan karena membayangkan kerumitan dalam struktur bangunannya. Untuk Rumah Bolon maupun Istana Maimun sekalipun menurutku biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Sudah puluhan kali saya melintasi lokasi wisata Rumah Bolon ini baru kali ini aku berkunjung. Satu-satunya yang istimewa dan membuat ku terkagum-kagum bercampur heran saat itu adalah banyaknya wisatawan mancanegara dan nasional yang berkunjung. Di saat kami tiba di tempat itu, setidaknya ada tiga bus pariwisata yang sedang parkir.

Keherananku terutama adalah apa istimewanya tempat ini bagi para wisatawan itu, yang aku melihatnya biasa-biasa saja. “Setiap orang unik, dan yang unik dan menarik bisa berbeda setiap orang” ucapku dalam hati untuk menjawab keherananku. Tetapi pikiran skeptis ku juga muncul, “Jangan-jangan karena tempat ini dijadikan salah satu rute kunjungan wisata saja, hingga wisatawan berkunjung. Tujuan mereka sebenarnya adalah melihat keindahan alam Danau Toba”. What ever lah, begitupun aku sempat berkata pada beberapa orang mahasiswa,” Beruntunglah kalian ke sini, bule-bule itu jauh-jauh datang dari Eropa untuk melihat Rumah Bolon ini”.

Penjaga tempat itu, bermarga Purba kemudian menjadi pemandu sekaligus guru bagi mahasiswa. Mahasiswa berkumpul, mendengar penjelasannya dan mencatatnya. Beberapa mahasiswa yang hanya mendengar tanpa mencatat, ditegur dosen pembimbing. Mahasiswa yang ditegur hanya cengengesan, karena memang tidak siap dengan peralatan tulis.

Penjelasan pemandu ini dimulai dari jumlah bangunan, letak dan fungsinya. Kemudian menceritakan raja-raja dari Kerajaan Purba yang berjumlah 14 (empat belas). Terakhir (raja ke-14) bernama Tuan Mogang dibunuh rakyatnya sendiri ketika terjadi revolusi sosial. Tidak ada penjelasan yang menyakinkan dari pemandu tersebut kenapa Tuan Mogang dibunuh rakyatnya ketika terjadi revolusi sosial. Tetapi aku menduga, raja terakhir yang sudah memeluk Agama Kristen ini berpihak kepada Belanda yang merupakan perpanjangan tangan Belanda untuk mengutip pajak dari rakyat. Dan ketika Indonesia merdeka, raja ini enggan mengakui dan mendukung serta mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Belanda.

Penjelasan berikutnya adalah jumlah isteri dari raja-raja. Jumlah isteri raja berhubungan dengan tata ruang dari Rumah Bolon. Rumah Bolon yang dibangun di masa raja ke – 12 yang bernama Tuan Rahalim memiliki 12 isteri. Masing-masing isteri menempati 1 bale (sekaligus sebagai tempat tidur) dengan 1 tungku yang satu dengan yang lainnya tanpa penghalang (terbuka). Jadi di Rumah Bolon terdapat 12 bale dan 12 tungku. Dua tungku di ruang depan, dan 10 lainnya berada di bagian dalam yang tersusun berjajar. Salah satu yang tertutup adalah kamar raja yang berukuran sekitar 2 x 2 M yang di bahagian bawahnya terdapat tempat tidur ajudan raja.  Seperti kasim dalam dinasti China, ajudan ini juga dikebiri yang salah satu tugasnya pengantar pesan raja kepada isteri raja yang datang ke kamar raja untuk melakukan kegiatan reproduksi.

Di tempat itu, kami berada sekitar 2 jam. Mahasiswa telah mendatangi sebahagian besar bangunan yang berada di lahan dengan luas sekitar 1 ha. Bertanya dan mencatat. Pulang ke Medan singgah di objek wisata Tongging sambil makan siang. Satu sengah jam di tempat itu, pulang menuju Medan bersamaan dengab guyuran hujan. Pemandangan berikutnya adalah jalan raya yang bagaikan sungai karena buruknya drainase. Jalan raya menuju ke ladang tanpa gorong-gorong. Sama halnya di pemukiman, jalan raya di beberapa titik telah berbentuk kubangan. Pemandangan yang paling menjadi perhatian mahasiswa adalah kepala dan daging babi yang digantung. Beberapa mahasiswa menutup hidung, padahal bus pariwisata tertutup dan ber AC yang tidak memungkinkan bau apapun di luar akan tercium di dalam bus.

http://www.insidesumatera.com/?open=view&newsid=855&go=Rumah%20Bolon%20dan%20Kisah%2012%20Dapur

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

5 respons untuk ‘Mahasiswa Antropologi Unimal Di Rumah Bolon

  1. Kok tiba-tiba diputus ceritanya Hum…….

    Posted by Fikarwin Zuska | Juni 6, 2011, 1:34 am
  2. Catatan yang menarik. Sayang ‘kurang dielaborasi’, khususnya terkait dengan fenomena bujukan soal adanya butik itu. Misalnya, arti sejarah bagi orang-orang yang enggan masuk ke Rumah Bolon itu.

    Posted by yando | Juni 6, 2011, 10:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: