//
you're reading...
Cerpen Kampus, Uncategorized

KEraBat Setengah Hati

Ria membolak balik buku bergambar suku pedalaman. Membaca sebentar lalu menutupnya kembali. Melemparkan pandangan ke deretan buku yang tertata rapi, dan memperhatikan sebentar sepasang mahasiswa yang menelusuri deretan buku. Ia kembali membuka buku dan membolak-halamannya. Sudah satu jam Ia duduk sendiri di perpustakaan. Entah sudah berapa kali, buku tentang Kebudayaan Sasak itu ia bolak-balik. Ia sama sekali ia tidak tertarik isinya. Sebab ia tidak benar-benar membaca, tetapi membolak-baliknya. Pastinya buku itu ketiban sial saja menjadi terpilih untuk hanya dibolak-balik. Buku yang sudah terletak di meja, ketika Ia duduk di tempat itu.

Ria sedang tidak konsen. Beberapa jam sebelumnya masih berkumpul dengan genk-nya sehabis perkuliahan. Lalu memisahkan diri karena merasa butuh sendiri. Perpustakaan dipilihnya karena ia tahu tempat itu jauh lebih lengang dibanding tempat lainnya di kampus. Tetapi dasar utama pilihannya, ia tidak akan bertemu teman-temannya di perpustakaan. Seperti dirinya, teman satu genk nya lebih suka menghabiskan waktu di kantin, mengerumpi dan mengupdate facebook. Ke perpustakaan jika ada tugas yang butuh referensi saja.

Baru kali ini ia duduk cukup lama di perpustakaan. Untuk pertama kalinya, ia terpisah dengan genk nya di kampus. Setelah menyadari bahwa genk nya, temannya enak berbagi ketika senang saja. Tidak, ketika sedang ada masalah seperti saat ini sedang menimpanya. Kiriman uang bulanan dari orang tuanya dari kampung tertunda. “Harga sawit anjlok, dan tidak dipanen. Pinjam dulu dari teman-temanmu menunggu mamak bisa kirim” suara ibunya yang bergetar di telpon. Ria tahu pastilah orang tuanya sedang berusaha keras untuk meminjam. Di kampungnya Desa Aek Puhit, desa pertanian di perbatasan antara Propinsi Sumut dan Riau itu keseluruhannya penduduk bergantung ke penghasilan sawit. Sehingga jika harga anjlok seperti ini, pastilah keseluruhannya mengalami kesulitan keuangan. Tak ada tabungan, sementara angsuran kredit akan semakin membengkak dan terus mencekik. Padahal di masa krisis seperti ini, jangankan membayar berbagai tagihan kredit, untuk kebutuhan makan sehari-hari pun terancam. Orang tuanya dan  banyak petani lainnya hanya berharap, harga sawit segera pulih. Jika harga tidak kunjung membaik untuk waktu yang relatif lama, petani akan kehilangan tanahnya. Statusnya pun turut berubah menjadi buruh tani dari majikan yang umumnya tinggal di perkotaan.

Ria menarik napas dalam, timbul rasa ngeri membayang orang tuanya akan kehilangan lahan pertanian dan menjadi buruh tani. Tidak ada lagi kemandirian dan harus bekerja seharian untuk mendapatkan upah seadanya. Orang tua di usia menjelang senja, harus membanting tulang.  Bayangan wajah kedua orang tuanya hinggap di pelupuk mata.  Tanpa disadarinya air matanya menetes di pipinya.

“Desa Aek Puhit sudah berubah” ucapnya dalam diam. Tidak ada lagi hutan kemasyarakatan yang menghasilkan berbagai jenis kayu dan buah-buahan yang menopang ekonomi masyarakat. Tidak ada lagi ladang dan sawah yang mencukupi akan kebutuhan sayur-sayuran dan beras penduduk. Sekarang semuanya berubah menjadi hamparan kebun sawit. Berita tentang berbagai kemudahan dan keuntungan komoditas ini, telah berhasil mendorong penduduk untuk merubah jenis tanaman yang beragam menjadi tanaman sawit.

“Kapitalisme telah menyentuh desa kami,” simpul Ria. Merayap melalui media televisi yang marak sejak masuknya PLN dan semakin terbukanya akses masuk dan keluarnya manusia dan barang ke Desa Aek Puhit seiring dengan pembukaan jalan desa sepuluh tahun terakhir. “Petani di desaku tidak lagi bisa dipotret dengan pendekatan moral ekonominya James Scott seperti yang dibahas diperkuliahan. Mana ada lagi ciri petani dengan prinsip “dahulukan selamat” (safety first), sejak tanaman sawit-sawit menjadi satunya komoditas yang ditanam petani. Petani di desaku juga sudah tidak lagi bisa disebut “enggan mengambil resiko” (averse to risk) dengan perubahan pola dan jenis tanaman. Manalah pulak disebut enggan menanggung resiko jika berani kredit motor dan elektronik yang jelas-jelas beresiko, ” pikir Ria sambil membayangkan penggambaran yang lebih tepat untuk petani di desanya saat ini.  “Ku kira lebih cocok disebut petani rasional seperti yang digambarkan oleh Samuel Popkin. Mungkin juga tidak. Pastinya petani desa ku banyak yang irrasional dan tidak siap menanggung resiko” simpul Ria.

“Pilihan tanaman sawit juga tidaklah keseluruhannya salah”  Ria menyimpulkan. “Komoditas ini telah mampu meningkatkan pendapatan petani. Mungkin saja orang tua ku tidak bisa menyekolahkan ku hingga ke perguruan tinggi jika tetap kukuh menanam padi. Atau dari hasil kebun durian, petai dan jengkol yang hanya berbuah sesuai musim”. “Bagusnya, orang tua ku dan petani lainnya di desaku menanam sawit dengan tetap mempertahankan lahan persawahan dan kebun durian. Tetapi ditanam dimana? Kawasan hutan lindung yang tak jauh dari desaku saja sudah dirambah dan dijadikan lahan perkebunan sawit oleh perkebunan negara dan swasta nasional” kenang Ria.

“Jika konsumerisme belum merasuki pikiran dan sel-sel kesadaran sebahagian besar penduduk di desanya, ancaman krisis saat ini tidaklah terlalu parah” pikir Ria mencoba mengurai akar masalahnya.  Konsumerisme memang sudah sampai ke pelosok desa kami. Model pakaian artis di atas panggung mudah ditemukan digunakan anak remaja  yang lagi nampang di pinggir jalan. Sepeda motor baru, peralatan elektronik seperti televisi plasma dan hape keluaran terbaru sudah bahagian dari gaya hidup.  Booming harga sawit dan masuknya sambungan listrik (PLN) telah membentuk budaya konsumsi dan gaya hidup baru yang cenderung norak. Di kampungku yang pendidikannya banyak yang tidak tamat SLTA, merasa malu jika punya hape tidak bisa facebook dan foto. Ternyata sama saja dengan di kampus. Ada staf pengajar yang malu dan merasa minder ketika tidak punya mobil” bayang Ria sambil terseyum. Seyuman pertamanya diantara kecemasan yang sedang melandanya. Kesulitan keuangan saat ini membuatnya benar-benar cemas. Terlebih karena teman-temannya yang disebut kerabat itu tidak bisa membantu. “Lebih tepatnya tidak mau membantu” tegas Ria dalam hati.

Kata Kerabat pernah dimaknainya secara berarti. Kerabat yang direlung hati dan pikirannya menjadi keluarga terdekatnya di perantauan. Kerabat yang ia kira bisa membantunya di kala mengalami kesulitan. Kerabat yang pengesahannya dilakukan melalui suatu rangkaian upacara. “Kini aku dalam kesulitan, mengapa tidak ada kerabat yang bersedia membantu. Dimana solidaritas yang pernah disebutkan. Jika kerabat hanya untuk tertawa bersama, sesungguhnya aku dapatkan dengan teman-teman kost ku yang tidak mengikrarkan sebagai kerabat. Jika tidak ada bedanya, mengapa harus ada ritual inisiasi segala untuk bisa diterima jadi kerabat” ucap Ria dalam hati.

Dua tahun sudah “dibaptis” menjadi kerabat. Ria tidak tahu apa manfaatnya menjadi kerabat. Apa mungkin kedekatan lebih hingga pacaran seperti yang dilakoni beberapa pasangan kerabat. Di luar itu,  Ia sama sekali tidak tahu bedanya. Padahal untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Kurang tidur tiga hari dua malam. Paling menyakitkan adalah dibentak-bentak senior untuk tujuan yang tidak jelas dan kata-kata yang cenderung kasar. Padahal untuk itu, mahasiswa baru harus bayar. “Aneh, untuk disiksapun dinegeri ini harus bayar”. Lintasan pikiran itu, membuat Ria sekali lagi tersenyum walaupun getir dan berharap mendapat pinjaman di kostnya kepada teman yang bukan kerabat.**

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: