//
you're reading...
Cerpen Kampus

Otak Torang Kepala Batu

Jika suatu waktu berkunjung ke Kampus Hitam bertemu seseorang dengan sorot mata tajam, kulit putih, berkumis tebal dan tiga kerutan di dahi pastilah itu Doktor Torang. Jika kebetulan tidak ketemu, sebutkanlah ciri-cirinya itu, pasti orang-orang akan menunjukkan ruangannya di puncak menara. Tempatnya bersemedi, merenung, menyiapkan bahan perkuliahan dan satu yang tak pernah lupa, update facebook.

Doktor Torang terkenal pintar. Penguasaan teori dan metodologinya sungguh mumpuni. Tak ada yang mampu menandinginya soal menjelaskan fenomena sosial budaya. Semua kagum atas kecerdasannya. Satu-satunya kekurangannya adalah tidak mau mendengar pendapat orang lain. Sehingga sejawatnya menjulukinya Otak Torang Kepala Batu.

Doktor Torang lagi mayun. Tidak ada lagi sejawatnya yang naik ke menara dan mengajaknya berdiskusi. Padahal ia punya bahan teori baru yang menarik untuk diperdebatkan. Ia pun sungkan untuk mengajak. Belum pernah sekalipun mengajak atau mengorganisir kelompok diskusi ilmiah sebelumnya. Sejawatnyalah yang aktif mengajukan pertanyaan sehingga diskusi dengan sendirinya berlangsung. Ketika sejawatnya tidak ada lagi datang ke menara, Doktor Torang kehilangan mitra penyaluran hasratnya.

Kali ini hasratnya memuncak. Kesendirian telah memicu libidonya. “Aku harus dapatkan mitra diskusi” katanya dalam hati. Satu-satunya tempat yang terpikirkannya adalah lokalisasi.  Ia turun dari menara menuju tempat lokalisasi dosen yang lebih dikenal dengan ruang ovarium. Ruang peruntukan khusus bagi dosen melayani mahasiswa bimbingan. Di ruang ini tersedia fasilitas wifi yang dapat dimanfaatkan secara gratis.  Ditujukan sebagai sarana dosen mengupdate informasi dan bahan-bahan perkuliahan termutakhir. Sehingga tidak terlalu ketinggalan pengetahuan dari mahasiswa yang sudah sangat akrab dengan teknologi informasi.

Doktor Torang memasuki area lokalisasi dengan ragu. Sudah lama sekali, ia tidak berkunjung. Lamat-lamat ia amati hampir tidak ada yang berubah. Meja dan kursi masih yang sama. Sekumpulan dosen bermain kartu tanpa rasa sungkan, masih seperti dulu. Kumpulan lainnya ngerumpi tentang gosip teranyar di media massa, layaknya di warung kopi. Bedanya adalah dulu masih ada satu dua dosen yang searching internet, atau membimbing skripsi mahasiswa. Jika kini, tak ada lagi pelayanan bimbingan, bukanlah semata-mata kesibukan para pembimbing bermain kartu, tetapi mahasiswa pun merasa malu untuk menerima bimbingan.

Keraguan Doktor Torang memuncak. Dihadapannya hanya ada dua kelompok dominan. Bergabung dengan kelompok pemain kartu, sama sekali ia tidak berbakat.  Ia juga akan disebut munafik jika bergabung dengan kelompok itu walaupun hanya sekedar menonton. Doktor Torang pernah mengusulkan ke rektorat agar kampus dibersihkan dari kegiatan tak mendidik seperti permainan kartu itu.  Padahal secara personal, Ia merasa lebih nyaman dengan beberapa pemain kartu yang pernah menjadi mitra diskusinya.

Bergabung dengan group gosip sama tidak mendidiknya walaupun sedikit lebih terhormat. Setidaknya dari kejauhan kelihatannya seperti diskusi.  Pastinya mahasiswa juga tahu itu bukan diskusi, tetapi masih lebih mudah diinterupsi daripada yang konsen abis main kartu.
Akhirnya, Doktor Torang bergabung dengan kelompok gosip. Bukan karena alasan lebih terhormat dan mudah diinterupsi. Sama sekali bukan. Sebenarnya ia berniat untuk kembali saja ke menara, ketika menemui kenyataan bahwa tidak ada dosen yang sedang searching internet  untuk diajaknya diskusi. Sapaan Tasya,dosen muda berparas pas-pasan itulah yang  telah menggiringnya ke dalam perangkap lautan gosip yang memabukkan.

“Hai Bang Torang, pa khabar? Sinilah sebentar. Udah lama kali tidak becakap-cakap dengan abang. Udah duduklah dulu abang, biar ku pesankan minum. Abang minum kopi khan?” ucap Tasya dengan berondongan kata-kata, memberikan tempat duduk dan nyelonong ke kantin. Doktor Torang tidak sempat menjawab apalagi berdalih. Duduk manis dan memulai percakapan basa-basi dengan kekikukan yang tetap kentara.

“Kapan Abang beli mobilnya, udah Doktor kok kemana-mana naik sepeda motor” tanya Tasya sekembalinya dari kantin dengan segelas kopi. “Iya nih Pak Torang, ngajar dimana-mana, kok masih pake motor, gengsilah Pak” sambung Bandot, dosen lainnya sambil membandingkan dengan Pak Lemot yang pendidikannya hanya S-1 bisa punya Honda CRV.

Doktor Torang berusaha mendebat. Tetapi temanya dengan cepat berganti ke soal gosip affair seorang dosen dengan mahasiswi. Tak lama berubah lagi temanya. Kali ini tentang undangan seminar ke Eropa yang tidak dihadiri peserta dari Kampus Hitam karena soal kemampuan bahasa Inggris. Lalu tentang Briptu Norman Kamaru yang mendadak artis, dan seterusnya. Begitulah cerita silih berganti, diucapkan sambil tertawa, terkadang setengah berbisik dan melirik kiri kanan untuk memastikan yang digosipin tidak mendengar.

Doktor Torang tertegun. Duduk, diam dan terkadang tersenyum. Banyak hal yang dia tidak setuju dan mendebatnya. Tetapi hanya diucapkan, diteriakkan di dalam hati dan pikirannya. Lama ia menunggu kesempatan untuk berbicara membela diri, atau setidaknya menjelaskan tema gosip secara lebih ilmiah dengan teori-teori yang dipahami. Sama sekali ia tidak mendapat kesempatan itu. Hingga kelompok gosip akhirnya bubar, dan Doktor Torang masih duduk sendiri bermain dengan pikirannya. **

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: