//
you're reading...
GetaRasa, LASKAR PASAR

Proyek Uji Coba Nasib Pedagang

Tujuan program revitalisasi pasar melalui penggabungan pembangunan fisik pasar dan pemberdayaan pedagang kelihatannya cukup mulia. Implementasinya tak akan mudah. Konsep pemberdayaan yang belum matang dan dominasi logika proyek yang kental, proyek percontohan ini bisa menjadi proyek uji coba nasib pedagang.

Gelagatnya terlihat jelas. Proyek yang semula direncanakan tahun 2010 lalu, belum juga terlaksana hingga awal tahun 2011. Informasinya telah sampai ke pedagang. Pedagang menyambutnya dengan rasa was-was dan cemas. Pasalnya, tujuannya bisa baik tetapi dalam pelaksanaannya, proyek ini bisa mengancam kehidupan mereka. Pedagang bisa dengan mudah menunjukkan contohnya. Revitalisasi pasar tradisional menjadi pasar tradisional modern telah memarjinalisasi pedagang.

Pasar Panorama Bengkulu, salah satu pasar tradisional di Indonesia yang bakal dijadikan percontohan. Pasar yang terletak di tengah Kota Bengkulu ini secara fisik memang sudah tidak layak. Seribu lebih pedagang berhimpitan di lokasi pasar seluas 4 ha itu. Penataan ruang yang semrawut dan fasilitas pasar yang minim. Belum lagi persoalan konflik pengelolaan pasar menambah kompleksitas persoalan pasar tersebut. Kondisi yang demikian, revitalisasi pasar panorama memang sudah menjadi keharusan. Pedagangpun menyadarinya. Masalahnya, apakah setelah revitalisasi pasar dilakukan, masihkah mereka dapat berdagang di Pasar Panorama? Bagaimana dengan relokasi pedagang, apakah keseluruhan pedagang atau sebahagian diantaranya? Pertanyaan yang belum terjawab dan sangat menggelisahkan pedagang. Kasus revitalisasi Pasar Minggu menjadi Pasar Tradisional Modern (PTM) telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada pedagang.
Banyak pedagang yang direlokasi ke lokasi sementara tidak kembali lagi berjualan di Pasar Minggu karena tidak mampu membeli lapak pasar yang harganya selangit. Akibatnya banyak lapak pasar ini yang kosong, sementara Pasar Panorama mengalami kelebihan kapasitas pedagang. Nah, sekarang Pasar Panorama akan direvitalisasi, bagaimana mungkin pedagang tidak khawatir. Pedagang membutuhkan jaminan bahwa kejadian pada proyek revitalisasi Pasar Minggu tidak terjadi di Pasar Panorama. Pertanyaannya siapa yang berani menjamin dan apa jaminannya?

Proyek ini memang mengkhawatirkan. Indikasinya bisa dilihat dari ketidakmatangan konsep. Apa yang dimaksud dengan revitalisasi pasar, tradisional modern dan pemberdayaan pedagang? Sejauh ini belum jelas. Indikasi berikutnya adalah kerancuan implementasi. Bagaimana sinkronisasi antara tim pemberdayaan dengan tim fisik dalam implementasi revitalisasi pasar? Sinkronisasi ini bisa dilihat dari kerangka waktu dan kinerja. Sejauh ini masih kabur.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: