//
you're reading...
GetaRasa, LASKAR PASAR

Pasar Panorama Tak Seindah Namanya

gabungan2Senja itu. Matahari telah terbenam, kenderaan masih ramai di jalan raya tetapi aktivitas ekonomi telah berangsur surut. Sebahagian besar toko-toko yang berada di jalan sudah tutup. Beberapa toko lainnya sudah bersiap-siap menghentikan aktivitas. Penjual martabak, sate, roti bakar siap-siap menggantikannya. Mereka berjualan di trotoar dan badan jalan di depan deretan toko yang tutup di malam hari.

Aku menyusuri jalanan menuju Pasar Panorama. Pasar tradisional di tengah Kota Bengkulu yang bakal dijadikan salah satu pasar percontohan di Indonesia. Berdasarkan informasi awal yang ku terima dan hasil penelusuran di google, pengelolaan pasar ini memiliki dinamika yang khas. Diantaranya konflik kepentingan dalam pengelolaan keamanan pasar.

Aku menginap di Hotel Sinar Dunia (Sindu). Dari penginapanku ke pasar panorama tidaklah begitu jauh. Hanya sekitar 300 meter. Dengan berjalan kaki dan menenteng kamera, saya mengelilingi pasar ini.

Di jalan raya sepanjang pasar panorama terdapat puluhan pedagang buah dan CD/DVD bajakan. Mereka membangun tempat dagangan di atas trotoar hingga badan jalan. Sore menjelang malam itu, dagangan mereka terangi dengan lampu pijar atau neon yang sumber arusnya dari kompleks pasar. Belakangan ku tahu bahwa  pedagang tersebut umumnya beretnis Batak Toba. Masyarakat setempat umumnya menyebutnya Orang Batak atau Orang Medan.

Di jalan sebelah barat terdapat kumpulan jual kerupuk palembang dan deretan penjual CD/DVD hingga terminal. Di bahagian tengah, terdapat pintu masuk ke pasar. Di sebelahnya terdapat papan pengumuman yang melarang berjualan di trotoar dan badan jalan. Persis di bawah papan pengumumam tersebut, penjual cd/dvd menjadikan tiang tersebut sebagai penyanggah.

Aku berdiri di pintu masuk, memandang ke dalam pasar. Tidak ada lagi aktivitas perdagangan. Hanya tapak-tapak kosong dan losd yang terkunci. Rupanya, aktivitas ekonomi hanya berlangsung pagi hingga sore hari. Akupun melanjutkan perjalanan mengitari komplek pasar yang luasnya 4 ha ini.

Di jalan kedondong beberapa titik ku temukan air dari limbah pasar menggenangi jalan. Bau tak sedap menyengat berasal dari limbah pajak yang membuat perjalananku menjadi tidak nyaman. Memang, bahagian jalan kedondong ini terdapat pasar ikan dan sayuran. Di sore hari menjelang malam itu, masih ada pedagang ikan dan sayuran yang berdagang di badan jalan.

Suara azan maghrib mengumandang dari mesjid yang berada di area pasar. Belum mandi dan ganti pakaian, aku memutuskan untuk shalat magrib di kamar saja. Aku pun mempercepat langkah menuju hotel. Sembari jalan sedikit terburu-buru, aku masih sempat memperhatikan lokasi pasar yang kosong dipadati meja-meja pedagang kaki lima. Diantara trotoar dengan lokasi pasar dibatasi pagar besi yang umumnya telah berkarat. Penataan pasar yang kurang teratur, banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar dan badan jalan, tapak pasar yang becek dan imbah pasar yang menggenangi beberapa titik di jalan kedondong, dalam hati ku simpulkan : Pasar Panorama Tidak Seindah Namanya.

Kota Bengkulu, Akhir Januari 2011.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: