//
you're reading...
LASKAR PASAR

Laskar Pasar

Laskar Pasar adalah sebutanku untuk team pemberdayaan pasar panorama bengkulu dan pasar pangururan samosir. Mencakup dua pasar di dua propinsi di pulau sumatra, team tersebut secara formal disebut team sumatra yang pengorganisasiannya melalui Lembaga Pemberdayaan Kelompok Masyarakat (LPKM) yang berkantor di Medan. Anggota Laskar yang umumnya dari Medan dan lembaganya di Medan, team ini juga sering disebut sebagai Team Medan.

Suasana salah satu kelompok diskusi dalam workshop perumusan program pasar percontohan

Suasana salah satu kelompok diskusi dalam workshop perumusan program pasar percontohan di Bengkulu

Nama Laskar Pasar aslinya bukan dariku. Aku melihatnya dari email team jakarta ke team leader  yang ditunjukan ke Mas Budi ketika menjelaskan informasi terkait dengan rencana inisiasi di Januari yang lalu. Begitupun aku yang mempopulerkannya, setidaknya untuk team medan. Aku yang pertama menggunakanya di status fb dan menyebutnya sebagai identitas team dalam komunikasi diantara team.

Keterlibatanku di team ini diawali dari telpon Mas Budi pada awal Januari 2010. Beliau memberi informasi ringkas terkait dengan rencana program Kemendag dan mengundang hadir ke LPKM pada hari Minggu pukul 14.00 wib. Agendanya untuk mendapatkan informasi lebih dan komitmen kesediaan sebagai anggota team.

Sesuai dengan undangan aku datang ke LPKM. Tempat itu tidaklah asing bagiku. Sekitar enam tahun yang lalu, aku pernah jadi anggota team assesment yang dipimpin  Mas Budi, dimana rapat-rapat dilaksanakan di tempat tersebut.

Setengah jam sebelumnya aku telah tiba. K Ester telah tiba lebih dulu. Di ruangan telah ada Mas Budi dan Mbak Emi. Tidak banyak yang berubah, kecuali cerita tentang si mbak dan kondisi fisiknya yang tampak lebih kurus, rambut lebih pendek dan penglihatan yang terganggu. Kanker otak yang dialaminya setahun terakhir yang saat ini dalam proses penyembuhan berdampak pada terganggunya fungsi mata. Sebelumnya juga berdampak pada stroke, tetapi sudah disembuhkan. Namun, penyakit itu tidak mampu menggerogoti semangat, kepercayaan diri dan kecerdasannya.

Sesuai dengan waktu yang dijadwalkan rapat dimulai. Sebahagian besar undangan telah hadir  dan sebahagian besar diantaranya aku mengenalinya yakni staf pengajar di USU dan aktivis NGO di Sumatera Utara.

Dalam rapat Mbak Emi selaku Team Leader menjelaskan tentang rencana program percontohan pasar tradisional di Indonesia oleh Kemendag. Posisi team pemberdayaan dalam program, tahapan yang sudah dilakukan dan tahapan berikutnya serta besaran anggota team dan salary yang ditawarkan.

Di rapat perdana itu aku tahu bahwa rencana program ini seharusnya sudah berjalan tahun 2010 lalu. Namun, karena satu dan lain hal, kemudian direncanakan kembali di tahun 2011. Saya menduga permasalahan utamanya adalah ketidaksiapan dalam konsep dan perencanaan.  Di tahun 2011 ini, ketidaksiapan konsep dan perencanaan kelihatannya masih bermasalah. Informasi yang disampaikan si mbak bahwa team medan yang akan menjadi pionir dan percontohan untuk proposal dan model menunjukkan hal tersebut. Di samping, pernyataan lugas si mbak terhadap ketidaksiapan team lainnya terkait dengan konsep pemberdayaan pasar tradisional.

Team medan, jikapun dianggap paling siap, sebenarnya kesiapan komparatif. Proposal pemberdayaan yang terus mengalami revisi salah satu indikasinya. Saya sendiri merasa masih belum clear yang dimaksud dengan pasar tradisional modern, maupun tahapan dan tatacara serta hasil yang diharapkan dari program percontohan pasar tradisional modern.

Begitupun, di pertemuan perdana itu, aku tidak tergesa-gesa untuk memahaminya. Aku merasa akan lebih jelas dalam proses perjalanannya. Ketika informasi umum tersampaikan dan diperolehnya komitmen calon anggota team untuk bergabung di dalam program, terpilihnya 7 orang yang akan melakukan inisiasi, rapat selesai. Team inisiasi dibantu anggota lainnya diminta si mbak menyusun proposal inisiasi. Aku dan anggota team lainnya masih samar-samar dengan program ini, hanya memformulasi proposal dari hal-hal yang disebutkan oleh si mbak. Salah seorang anggota team berbisik, “Kok disebut inisiasi” katanya. “Entah, tidak tahu aku. Kita ikuti saja dulu”, jawabku.

Pasca pertemuan perdana itu cukup lama tak ada khabar. Padahal, ketika di rapat perdana itu, akan berangkat minggu depannya. Baru minggu ke empat dapat khabar dari si mas untuk kumpul lagi menyiapkan keberangkatan. Khabar itu beliau kirim dari Malaysia.

Akhirnya tanggal 31 Jan team inisiasi berangkat juga. Aku bersama si mas dan si mbak berangkat ke Bengkulu. Sementara team lainnya  ke Samosir. Di lokasi kami selama lima hari. Mengumpulkan informasi awal pasar sebagai bahan untuk menyusun proposal.

Pulang dari lokasi membuat laporan inisiasi. Review oleh Team Jakarta terhadap laporan menunjukkan perbedaan persepsi tentang cakupan dan hasil yang diharapkan diantara team jakarta dengan team medan. Team medan berpandangan bahwa inisiasi untuk penggalian kebutuhan dalam rangka penyusunan proposal, sementara Team Jakarta mengharapkan laporan berdasarkan variabel-variabel di panduan assessment.

Salah satu sudut di dalam Pasar Panorama Bengkulu

Salah satu sudut di dalam Pasar Panorama Bengkulu

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: