//
you're reading...
GetaRasa

Wajah Bunglon Temanku

Sebutlah namanya Pak  Lah. Begitulah beliau dipanggil. Temanku di Aceh yang kenal karena hubungan pekerjaan. Aku kenal kedua isterinya. Isteri keduanya tahu isteri pertamanya, tidak demikian dengan isteri pertamanya.  Baru sebulan ini dia dengar isu, bahwa suaminya kawin lagi. Tetapi, suaminya, kawanku Pak Lah tidak mengakuinya. Tetapi, istri pertamanya lebih percaya isu daripada bantahan kawanku.

Aku dikenalkan pada isteri pertamanya di praktek dokter penyakit dalam di Medan Baru. Beliau mengontakku sebelumnya dan bertemu  di tempat itu.

Isterinya gendut dan hitam. Tidak ada tanda-tanda kecantikan. Sungguh tidak sebanding dengan Pak Lah, yang diusianya menjelang lima puluhan masih terlihat gagah dan tampan. Melihatnya, dalam pikiranku terlintas pertanyaan apakah mereka dulu pacaran atau dijodohkan? Apakah isterinya ini dulu anak pejabat atau keturunan terpandang dan kaya raya? Tentunya pertanyaan itu hanya ku simpan dalam angan. Kesimpulanku, perjodohan mereka pastilah bukan di dasarkan atas rupa yang cantik.

 “Saruhum bu”, ucapku mengenalkan diri sambil menyalaminya. Bagian dari basa-basi ku tanya tentang penyakitnya. “Entahlah pak, semua sakit dari ujung rambut sampai ujung kuku” jawabnya. “Penyakit yang aneh” ucapku dalam hati. Pembicaraan beralih tentang perjalanan satu malam aceh – medan. Mengapa memilih dokter spesialis ini, menginap di mana dan lainnya sebagai pembicaraan basa-basi.  Temanku, Pak Lah mengalihkan tema pembicaraan ke proyek di daerahnya, yang mana beliau pimpronya dan saya konsultannya. Ketika dokter datang, mereka masuk ke ruang tunggu, tak lama aku pun pamitan pulang.

Seminggu kemudian, Pak Lah temanku kembali mengontakku. Beliau menyatakan sedang di medan bersama isterinya. “Bagaimana kondisi ibu” tanyaku. “Udah baikan” jawabnya. “Jadi, ini kontrol kesehatan saja ya” tanyaku sambil menawarkan utk bertemu di praktek dokter saja sore hari. Beliau menyampaikan bertemu di jalan singamangaraja saja, karena punya agenda lain dan mungkin tak ke praktek dokter sore ini. Begitulah, aku mengakhiri pembicaraan dan berjanji akan menelponnya kembali ketika akan berangkat.

Sore hari kami bertemu. Pak Lah menyambutku dengan wajah ceria. Sungguh wajahnya kelihatan lebih muda dari yang ku kenal sebelumnya, lelaki separoh baya. Ehm, ia pun bercerita bahwa sebenarnya ia datang untuk menemui isteri keduanya. Tinggal tak jauh dari warung tempat kami bertemu. Tak lama isteri mudanya pun muncul. Sesuai dengan sebutannya, perempuan itu pun masih muda, putih dan cantik. Saya kagum juga dengan kecantikan isterinya. Salut juga dengan kemampuan kawanku menggaet perempuan muda, cantik dan keturunan bangsawan Aceh.

 Akupun teringat perkataan isteri pertamanya ketika menjelaskan penyakitnya yang sakit dari ujung rambut dan ujung kuku. Akupun mengira-ngira pastilah ada hubungannya dengan khabar bahwa suaminya kawin lagi.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: