//
you're reading...
GetaRasa

Indonesia Rasa Cina

Indonesia kebanjiran ! Itu  cerita lama. Tetapi, kebanjiran yang satu ini berbeda. Kebanjiran yang bukan karena saluran pembuangannya yang mampet tetapi justru bendungannya banyak yang bocor. Penguasa bukan memperbaikinya agar banjirnya surut malah bendungannya dibuka selebar-lebarnya. Itulah Indonesia yang sedang kebanjiran produk China, volumenya bertambah dengan sangat cepat dan dinyakini segera akan menenggelamkan produsen lokal setelah diberlakukannya pasar bebas ASEAN – China per 1 Januari 2010.

Pasca krisis moneter bermunculan toko maupun gerai di swalayan yang membuat merk dagang : SERBA LIMA RIBU. Toko dan gerai ini menjual berbagai aneka produk China dengan harga sama dengan merk dagangnya. Ketika itu, saya dan teman yang penasaran masuk ke satu gerai terpana dan kagum dengan harganya yang murah. Orang awam yang tidak paham dengan teori pemasaran apalagi perdagangan antar bangsa, akhirnya bingung. Bagaimana bisa produk yang di datangkan dari negeri yang jauh sekali, China, bisa dijual dengan harga yang gila-gilaan murahnya. Khan harus mengeluarkan biaya transportasi, pajak dan biaya administrasi lainnya. Ditambah lagi, saya nyakin  biaya yang dikeluarkan pastilah di atas harga resmi dengan birokrasi yang korup.  Tetapi, teman saya menyela, “bisa lebih murah” katanya kalo tanpa dokumen resmi. “Pejabat kita khan gampang disuap,” imbuhnya sambil menyatakan adagium yang beredar di komunitas Tionghoa, “Kalo ayam masih mau makan jagung, masih bisa diaturlah”. Maksudnya apa, tanyaku? “Begok kalipun kau. Itu, opungmu, amangborumu, tulangmu  yang pejabat itu,  disuap” jawabnya kesal. “Sialan kau, aku tidak punya keluarga pejabat apalagi koruptor” jawabku sengit. Akhirnya kami tertawa, dengan jawaban penutupnya, “syukurlah kalau begitu keluarga kita nasibnya sama,  makan jagung walaupun bukan ayam.  Akhirnya kami keluar dari gerai tersebut dengan belanjaan seharga lima ribu. Saya beli tang (alat pemotong kawat) yang ketika digunakan tak mampu memotong dengan baik, karena kalah keras dengan kawatnya.

Hari berlalu, seperti biasanya soal serbuan produk China dan serba lima ribunya menjadi hal yang biasa. Hingga suatu ketika, sekitar tiga tahun yang lalu, aku melihat jeruk lokan dari China di jual di pajak Brastagi. Ya..amplop,  Brastagi sebagai pusat penghasil jeruk di Indonesia,  juga sudah dibanjiri jeruk China. Jeruk madu dari Berastagi dan sekitarnya bakalan mati suri sebelum mati total. Setelah sempat menguasai pasar asia tenggara yang kemudian surut karena isu lalat buah. Lalu, hanya menguasai pasar tradisional di Jabotabek karena tidak diterima di pasar modern (supermarket). Itupun mendapat ancaman serius dari jeruk asal Kalimantan. Saat ini, semakin kronis. Saya menemukan, jeruk madu ukuran super yang biasanya dijual seharga Rp. 15.000/kg, sekarang di jual di pinggiran jalan dengan harga yang jauh lebih murah (lima ribu per kilogram). Saya jadi takut untuk sekedar membayangkan, berapa keluarga saya yang petani jeruk menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul.  Seperti biasanya, mereka harus berjuang sendirian karena lelah memohon bantuan. Sungguh ironi dengan realita, pemerintah mengucurkan dana Rp. 6,7 triliun ke Bank Century, yang katanya kemudian dirampok pemilik dan kroninya. Dan milyaran rupiah dana biaya Pansus Hak Angket untuk menyelidikinya.

Kembali ke soal banjir produk China. Parodi di sebuah stasiun televisi swasta, menampilkan parodi singkat. Di ceritakan dua orang wisatawan asal China yang baru pertama kali berwisata ke luar negeri berkunjung ke Glodok. Setelah melalui penerbangan yang melelahkan dari Kota Sanghai menuju Jakarta, Indonesia baru sadar bahwa mereka sebenarnya masih berada di negeri China. Pedagang di pasar Glodok berusaha menyakinkan bahwa mereka sudah di luar China yakni Indonesia, tepatnya Jakarta. Tetapi, kedua wisatawan ini tetap saja tidak percaya, karena pedagang dan barang dagangannya tidak ada bedanya yang ada di kotanya. Sama sekali tidak menemukan barang lain yang mereka bayangkan dan  cari sebagai oleh-oleh: souvenir dari Indonesia.

Artikel terkait : View point: The ‘Barongsai’ Syndrome | The Jakarta Post.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: